Menanti Keberpihakan di Tengah Anjloknya Harga Kelapa

Screenshot_2026-07-21-21-28-32-10_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

Inhil, detikriau.id – Di bawah terik matahari, seorang petani memanggul puluhan butir kelapa dengan keranjang rotan di pundaknya. Langkahnya berat menyusuri kebun kelapa yang telah menjadi sumber penghidupan keluarga selama bertahun-tahun. Keringat yang menetes menjadi saksi kerasnya perjuangan para petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir, sentra kelapa terbesar di Indonesia.

Ironisnya, kerja keras itu kini belum sebanding dengan hasil yang diterima. Harga kelapa yang terus mengalami penurunan membuat pendapatan petani semakin tergerus. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan anak, hingga merawat kebun yang menjadi tumpuan hidup.

Di tengah kondisi itu, para petani berharap suara mereka juga didengar. Mereka menilai perhatian terhadap komoditas kelapa belum sebesar perhatian yang diberikan kepada sektor perkebunan lainnya.

“Saat harga kelapa terus turun, banyak pihak seolah-olah menutup mata dan menutup telinga terhadap kesulitan para petani. Petani kelapa juga berhak mendapatkan perhatian dan perlindungan yang sama dari pemerintah,” demikian aspirasi yang berkembang di kalangan petani.

Bagi masyarakat Indragiri Hilir, kelapa bukan sekadar komoditas ekonomi. Kelapa adalah warisan, identitas daerah, sekaligus sumber kehidupan bagi ribuan keluarga. Karena itu, petani berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat hilirisasi industri kelapa, serta membuka akses pasar yang lebih luas agar kesejahteraan petani meningkat.

Foto seorang petani yang memikul hasil panennya menjadi gambaran nyata bahwa di balik setiap butir kelapa yang sampai ke pembeli, terdapat perjuangan panjang yang membutuhkan perhatian bersama. Di saat komoditas lain memperoleh sorotan ketika mengalami penurunan harga, petani kelapa berharap mereka juga mendapat perlakuan yang setara, sehingga kerja keras mereka tidak lagi dibayar dengan ketidakpastian./Guntur alam