Harga Kelapa Terus Merosot. Petani Kelapa Terkenang Janji Kampanye

Screenshot_2026-07-22-15-13-21-52_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

Indragiri Hilir,detikriau.id – Petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, kembali menghadapi kondisi yang memprihatinkan. Sejak Juni 2026, harga kelapa terus mengalami penurunan. Jika sebulan lalu masih berada di kisaran Rp2.600 per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp2.050 per kilogram.

Penurunan harga tersebut sangat berdampak terhadap pendapatan petani. Di tengah panen yang sedang melimpah, harga justru semakin terpuruk sehingga hasil yang diperoleh tidak lagi sebanding dengan biaya produksi.

“Di balik tumpukan kelapa ini ada keringat dan harapan petani Inhil. Harga anjlok, kelapa menumpuk, kami menjerit,” ungkap salah seorang petani.

Menurutnya, produksi kelapa tahun ini memang sangat tinggi. Namun, kondisi itu justru kembali diikuti penurunan harga, sebuah persoalan yang disebutnya terus berulang setiap musim panen raya.

Selain harga yang rendah, petani juga menghadapi tingginya biaya panen dan angkut yang kini tidak lagi sebanding dengan nilai jual hasil panen. Meski demikian, mereka tetap harus memanen kelapa demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjaga kualitas buah.

Petani juga mengeluhkan sulitnya pemasaran akibat minimnya kapal pengangkut kelapa. Akibatnya, hasil panen menumpuk dan penjualan menjadi terhambat.

Mereka berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera mengambil langkah nyata.

“Kami meminta pemerintah lebih memperhatikan petani kelapa dan membantu memperjuangkan agar harga kelapa kembali stabil, sesuai dengan janji-janji dimasa pilkada, ” katanya.

Petani khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, kesejahteraan mereka akan semakin memburuk. Di sisi lain, harga pupuk dan racun pertanian masih tetap tinggi, sehingga beban produksi terus meningkat sementara nilai jual hasil panen terus menurun.

Mereka berharap ada kebijakan yang berpihak kepada petani kelapa agar komoditas unggulan Indragiri Hilir tersebut kembali memiliki nilai ekonomi yang layak dan mampu menopang kehidupan ribuan keluarga petani./Guntur alam