“Liarnya” Harga Kelapa yang Berpotensi Merobohkan Benteng Pesisir
Tembilahan, detikriau.id/ – Anjloknya harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir memicu keresahan petani. Kondisi ini mencuat menjadi perbincangan di kalangan petani, bersamaan dengan meningkatnya pertanyaan terhadap realisasi janji “Inhil Hebat” terkait hilirisasi kelapa.
Mengutip sebuah postingan warganet di media sosial facebook dalam grup Berita Inhil (26/01). Unggahan tersebut dibagikan puluhan kali dan memicu ratusan komentar. Memperlihatkan sebuah spanduk berlatar kebun kelapa dengan tulisan: “Jika petani Inhil tidak dihargai lagi & harga terus menurun, kita hilangkan kata ‘Hamparan Kelapa Dunia’ jadi ‘Hamparan Sawit Dunia’…..”
Narasi tersebut dinilai mencerminkan kekhawatiran petani terhadap keberlanjutan komoditas kelapa di Indragiri Hilir. Sejumlah warganet mengakui tengah mempertimbangkan untuk meninggalkan kelapa secara perlahan. Bukan dengan pembukaan besar-besaran, melainkan melalui keputusan kecil, bibit kelapa tidak lagi ditanam melainkan menyisipnya dengan bibit sawit diantara pohon kelapa yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi. Sawit menjadi rujukan yang muncul dalam percakapan tersebut, bukan karena dianggap ideal, melainkan karena kelapa tak lagi memberi kepastian hidup.
Diantara banyaknya komentar, ada warganet secara terbuka mengaitkan kondisi tersebut dengan janji pemerintah daerah.
“Mana yang katanya mau hilirisasi kelapa,” tulis salah satu akun, mempertanyakan agenda peningkatan nilai tambah kelapa yang menjadi bagian dari visi pasangan “Inhil Hebat” untuk peningkatan ekonomi petani.
Tidak hanya itu, kritik juga diarahkan kepada lembaga legislatif daerah. Sejumlah komentar mempertanyakan sikap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang dinilai belum memberikan respon terbuka terhadap penurunan harga kelapa. Beberapa warganet menilai absennya suara wakil rakyat memperpanjang ketidakpastian di tingkat petani.
Dalam diskusi tersebut, muncul pula pengakuan petani yang mulai mengalihkan kebun kelapanya ke tanaman sawit. Seorang pengguna menyebut separuh dari kebun kelapa seluas 25 hektare milik keluarganya telah diganti sawit karena pertimbangan ekonomi. Petani lain menilai harga kelapa kerap berfluktuasi, berbeda dengan sawit yang dinilai lebih stabil.
Indra, petani kelapa asal Kecamatan Enok, mengungkapkan kegelisahan yang sama saat dikonfirmasi terpisah (28/01).
“Kami ini bukan minta dikasihani, kami minta diperhatikan. Harga kelapa jatuh, tapi kepedulian pemerintah seperti ikut jatuh,” ujarnya. Janji-janji saat kampanye, kata Indra, masih terdengar di ingatan, tapi tak pernah benar-benar sampai ke kebun. “Kalau kondisi seperti ini terus, lebih baik kami ganti kelapa seluruhnya dengan sawit,” tambahnya lirih. Indra juga menyampaikan telah mengganti sebagian kebun kelapanya dengan sawit.
Hilirisasi kelapa yang dijanjikan dalam visi pembangunan daerah belum juga tampak. Di tingkat tapak, petani masih bergantung pada penjualan kelapa mentah dengan harga yang ditentukan pasar, tanpa instrumen perlindungan dari pemerintah daerah.
Sementara itu, para pakar dan akademisi yang kerap terlibat dalam kajian restorasi gambut dan mangrove berulang kali menegaskan bahwa keberhasilan restorasi tidak ditentukan semata oleh pendekatan teknis. Fondasi sosial ekonomi masyarakat sekitar menjadi faktor penentu. Komoditas seperti kelapa dalam banyak kajian, justru berperan sebagai penyangga ekologis alami, menjaga tata air gambut, menahan tekanan alih fungsi lahan, dan memberi penghidupan yang relatif selaras dengan karakter pesisir.
Menanam sawit di lahan gambut bukan sekadar salah kelola, tapi bunuh diri ekologis. Gambut harus dikeringkan agar sawit tumbuh dan saat airnya dibuang, ekosistem langsung runtuh. Karbon yang tersimpan ribuan tahun lepas ke udara, banjir datang saat hujan dan kekeringan mengakibatkan kebakaran saat kemarau.
Melindungi lingkungan tanpa melindungi harga dari hasil bumi, hanya akan melahirkan kepatuhan semu, rapuh dan mudah runtuh ketika perut rakyat kembali lapar. Bagi petani, resiko ekologis itu kerap kalah oleh desakan ekonomi.
Jika alih fungsi ini terus berlangsung, Indragiri Hilir bukan hanya berpotensi kehilangan identitas sebagai Hamparan Kelapa Dunia. Ia juga menghadapi perubahan lanskap ekologis yang sulit dipulihkan. Peralihan yang bermula dari kegagalan melindungi satu komoditas bisa berujung pada tekanan lingkungan yang jauh lebih besar, berpotensi merobohkan benteng pesisir.
Di kebun-kebun, perubahan itu sedang berjalan. Tidak dengan spanduk atau pengumuman resmi, tetapi dengan tanaman bibit baru yang kini tidak lagi diisi kelapa./one bundo
