Belajar di Balik Sekat dan Teras: Potret SD Negeri 022 Rambaian yang Bertahan di Tengah Keterbatasan
Gaung Anak Serka, detikriau.id/ – Pagi itu, suara anak-anak membaca bercampur dengan gesekan bangku kayu tua. Di SD Negeri 022 Rambaian, Dusun Maju Jaya, Desa Rambaian, Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) Kabupaten Indragiri Hilir, ruang kelas bukan lagi sekadar tempat belajar—ia menjadi ruang kompromi, tempat anak-anak belajar berbagi ruang, suara, bahkan konsentrasi.
Keterbatasan ruang kelas memaksa sekolah ini menjalani hari-hari yang jauh dari kata ideal. Satu ruangan harus dibagi dua dengan sekat seadanya, sementara sebagian siswa lainnya terpaksa menggelar buku pelajaran di teras sekolah. Atap seng dan dinding papan yang mulai lapuk menjadi saksi kegigihan mereka mengejar pendidikan.
Bagi warga desa, sekolah ini adalah harapan yang tak tergantikan.
“Kalau sekolah ini tidak ada, anak-anak kami mau sekolah ke mana?” ujar Selvi, wali murid yang telah menyekolahkan adiknya sejak kelas 1 hingga kelas 6 di SD Negeri 022 Rambaian.
Akses menuju sekolah lain bukan perkara mudah. Jarak jauh dan kondisi jalan membuat SD Negeri 022 Rambaian menjadi satu-satunya pilihan yang realistis bagi banyak keluarga. Bahkan, keberlangsungan pendidikan anak-anak desa ini turut ditopang bantuan transportasi dari perusahaan sekitar.
Meski dengan segala keterbatasan fisik, semangat belajar tak pernah surut. Selvi menilai para guru tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
“Guru-gurunya rajin. Anak-anak jadi lebih disiplin dan semangat belajar,” katanya.
Namun, keterbatasan ruang kelas menjadi luka yang terus terbuka. Sekat tipis tak mampu meredam suara dari kelas sebelah, membuat proses belajar sering terganggu. Anak-anak harus berusaha lebih keras untuk fokus, di ruang yang seharusnya memberi rasa nyaman.
“Dua kelas jadi satu ruangan. Suara dari sebelah sering masuk,” ucap Selvi pelan.
Kondisi ini bukan hal baru. Seorang guru kelas mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan dua kelas dalam satu ruangan sudah berlangsung sejak lama.
“Sejak awal kami mengajar, kondisinya sudah seperti ini,” katanya singkat.
Tak banyak bantuan yang datang. Selain dukungan terbatas dari pihak perusahaan, belum ada pembangunan atau renovasi signifikan dari pemerintah.
Di luar kelas, di atas lantai teras yang dingin, Elma, siswi kelas 6, menunduk menulis di bukunya. Ia adalah salah satu dari sekian anak yang harus belajar di luar ruang kelas.
“Saya sekarang belajar di teras,” katanya polos.
Harapannya sederhana, namun sarat makna.
“Saya mau kelas baru, supaya tidak belajar di teras lagi.”
Bagi masyarakat sekitar, SD Negeri 022 Rambaian bukan sekadar bangunan sekolah. Ia adalah benteng terakhir pendidikan anak-anak desa. Jumiati, warga setempat, menyebut sekolah ini sebagai kebutuhan mendasar yang tak bisa diabaikan.
“Manfaatnya besar sekali. Bangunannya sudah tidak layak,” ujarnya.
Kini, harapan menggantung pada perhatian pemerintah daerah dan dinas pendidikan. Wali murid, guru, dan masyarakat berharap ada peninjauan langsung dan langkah nyata berupa penambahan ruang kelas serta perbaikan fasilitas sekolah.
Di balik dinding papan dan ruang yang terbagi, anak-anak SD Negeri 022 Rambaian terus belajar—menyimpan mimpi besar, meski ruang mereka begitu sempit./guntur alam
