WNI Asal Inhil Koma di Singapura. KBRI Klaim Sudah Berkoordinasi, Keluarga Menunggu Bukti

Screenshot_2026-09-01-09-42-17-31_96b26121e545231a3c569311a54cda96

Indragiri Hilir, detikriau.id — Keluarga Ibu Gusnidar (82), WNI asal Indragiri Hilir Riau yang kini koma di Changi General Hospital (CGH) Singapura, berharap pemerintah tidak berhentilah pada koordinasi, tetapi menghadirkan bantuan yang benar-benar konkrit.

Ibu Gusnidar datang ke Singapura pada Juli 2026 untuk bersilaturahmi dan menjenguk cucu. Namun pada 11 Agustus, ia mengalami stroke dan kondisinya memburuk hingga kini menjalani perawatan dalam keadaan koma.

Persoalan semakin berat karena biaya perawatan semakin membengkak. Keluarga pun berupaya menggalang dana dari kerabat dan sahabat.

KBRI : KAMI SUDAH “KOORDINASI”

Thomas Siregar perwakilan KBRI Singapura dikonfirmasi melalui chat WhatsApp (31/8/2026) membenarkan permohonan bantuan dari keluarga.

Dalam keterangan persnya, KBRI menyatakan telah menghubungi keluarga, mengunjungi pasien, berkomunikasi dengan pihak rumah sakit dan melakukan koordinasi untuk mencari opsi penanganan, termasuk kemungkinan pemindahan pasien ke Indonesia.

Namun KBRI menegaskan bahwa pemindahan tidak dapat dilakukan sembarangan. Kondisi medis pasien dan persetujuan rumah sakit harus menjadi pertimbangan, termasuk memastikan pasien fit to fly.

Terkait biaya, KBRI juga menjelaskan bahwa bantuan pemerintah tidak selalu berbentuk uang. Dukungan dapat berupa pendampingan konsuler, koordinasi, fasilitasi dengan pihak terkait maupun dukungan terhadap proses kepulangan sesuai ketentuan.

KBRI juga menyebut dokumen keterangan tidak mampu telah diserahkan keluarga dan akan ditindaklanjuti melalui Kementerian Luar Negeri. Bahkan Kemenlu disebut akan mengusulkan dukungan kepada pemerintah daerah provinsi asal Ibu Gusnidar.

MASALAHNYA , KELUARGA BELUM MERASAKAN HASILNYA

Di sinilah muncul perbedaan persepsi.

Keluarga mengakui adanya komunikasi dan kunjungan KBRI. Tetapi mereka mengatakan belum ada bantuan konkrit yang benar-benar dirasakan.

“Belum ada bantuan konkritnya. Hanya janji dan chat WhatsApp serta sekali kunjungan dari pihak KBRI,” kata Wahyu, putra Ibu Gusnidar. Dikonfirmasi melalui chat WhatsApp (31/8/2026)

Bagi keluarga, yang dibutuhkan bukan semata-mata uang.

Mereka membutuhkan bantuan untuk menghadapi rumah sakit, berkomunikasi dengan dokter dan manajemen CGH, mencari solusi pembiayaan, sekaligus mempersiapkan kemungkinan pemindahan sang ibu ke Indonesia jika kondisi medis memungkinkan.

Pertanyaannya menjadi lebih sederhana.

Jika koordinasi sudah dilakukan, apa hasilnya.

Apa yang sudah berhasil dinegosiasikan dengan rumah sakit.

Apa perkembangan setelah dokumen keluarga diserahkan kepada Kemenlu.

Kapan usulan dukungan kepada pemerintah daerah direalisasikan.

Dan yang paling penting, apa solusi konkrit yang saat ini dihadapi keluarga.

KELUARGA TIDAK MEMINTA PERLAKUAN KHUSUS

KBRI tentu memiliki kewenangan, prosedur dan batasan yang harus dihormati. Pemindahan pasien koma ke Indonesia juga bukan perkara administratif semata, karena keselamatan pasien tetap menjadi prioritas.

Namun kondisi tersebut tidak menghapus kebutuhan keluarga untuk mendapatkan kepastian mengenai langkah pemerintah.

Sebab setiap hari yang berlalu berarti biaya rumah sakit terus berjalan.

Sementara seorang ibu berusia 82 tahun masih terbaring koma di negeri orang.

Keluarga tidak meminta perlakuan khusus.

Mereka hanya berharap ketika seorang WNI berada dalam kondisi kritis di luar negeri, negara tidak sekadar hadir melalui kunjungan dan komunikasi, tetapi juga membantu mencari jalan keluar yang nyata.

KBRI mengatakan koordinasi berjalan. Keluarga mengatakan belum merasakan hasilnya.

Terlepas dari perbedaan keterangan yang muncul, fokus utama semestinya bukan pada polemik, melainkan pada penyelesaian persoalan dan bantuan konkrit bagi keluarga.

Pertanyaannya, apa yang benar-benar sudah dikerjakan, apa hasilnya dan tindakan konkrit apa yang kini disiapkan pemerintah.

Karena ukuran perlindungan WNI bukan seberapa sering negara mengatakan “kami berkoordinasi”, tetapi seberapa nyata negara membantu ketika warganya berada dalam keadaan paling membutuhkan.

Kini keluarga menunggu bukan sekadar kabar bahwa pemerintah sedang bekerja. Mereka menunggu hasil kerja itu./wan bundo