Selamatkan Gambut.! Akasia Mengeringkan Masa Depan Indragiri Hilir

0

Inhil, detikriau.id/ – Indragiri Hilir selama puluhan tahun dikenal sebagai “Negeri Hamparan Kelapa Dunia”. Kebun kelapa rakyat merupakan urat nadi ekonomi, identitas budaya dan penopang kehidupan ribuan keluarga petani di sepanjang pesisir. Kini kebun-kebun itu rusak, mengering dan mati satu per satu. Akar penyebabnya adalah gabungan antara bencana alam, salah kelola lingkungan, serta lemahnya perhatian pemerintah.

Dalam kondisi demikian, di tengah penderitaan petani, korporasi besar melihat itu sebagai peluang emas. Mereka bisa saja datang menawarkan skema “kerjasama” investasi, dengan dalih janji penghasilan tetap.

Di atas kertas tampak menguntungkan, tapi sesungguhnya menjadi pintu masuk penguasaan lahan rakyat secara perlahan. Lahan kelapa yang rusak akibat intrusi air laut, diubah menjadi kebun akasia. Di sinilah proses penguasaan ruang hidup mulai terjadi.

Kebun kelapa rakyat yang merupakan simbol ekonomi turun-temurun Indragiri Hilir perlahan tergantikan oleh hamparan akasia yang seragam, tanpa kehidupan.

Kedaulatan kelapa adalah kedaulatan Inhil itu sendiri. Bila kebun rakyat hilang, maka hilang pula masa depan ekonomi dan identitas daerah ini.

Ilustrasi tanaman pohon akasia. foto: iStock/Creator: Ardiles Rante | Credit: Getty Images

Rawa dan gambut bukan sekadar bentangan lahan basah. Ia adalah ruang hidup tempat tumbuhnya kelapa, habitat perikanan dan benteng alami yang menahan air asin yang berasal dari laut. Namun kini, di beberapa titik, hamparan hijau kelapa alami itu berubah menjadi kebun monokultur akasia, tanaman cepat tumbuh yang menjadi bahan baku industri pulp (bubur kertas) beserta turunannya, seperti tisu, karton, kertas cetak, kertas kemasan, dan lain-lain.

Proses pembukaan lahan untuk perkebunan akasia dilakukan dengan mengeringkan gambut dengan membuat kanal-kanal panjang.

Dampak dari air yang keluar menyebabkan permukaan tanah turun, struktur gambut kering dan rusak, sehingga berpotensi menjadi penyebab kebakaran lahan gambut. Inilah bencana ekologis yang diam-diam sedang mengancam kita.

Ketika gambut dikeringkan, bahan organiknya teroksidasi dan menghasilkan emisi karbon dioksida dalam jumlah sangat besar. Akibatnya, Indragiri Hilir yang semestinya menjadi “penyimpan karbon” alami justru menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca.

Setiap musim kemarau, wilayah ini terancam kabut asap akibat kebakaran gambut. Bukan hanya udara yang tercemar, tetapi juga kehidupan masyarakat turut terancam. Anak-anak terpapar ISPA, kebun rusak, dan aktivitas ekonomi lumpuh.

Ironisnya, keuntungan dari akasia hanya dinikmati segelintir korporasi besar, sementara masyarakat lokal menanggung dampaknya.

Ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan soal keadilan sosial dan hak atas tanah.

Untuk mengantisipasi hal tersebut diharapkan kehadian pemerintah daerah tidak membiarkan investasi rakus menggantikan sumber penghidupan masyarakat melakukan penelitian dari dampak hidrologinya.

Memberikan solusi ekonomi rakyat yang diarahkan ke diversifikasi berkelanjutan, seperti sistem silvofishery yaitu sistem budidaya perikanan yang dikombinasikan dengan pengelolaan hutan mangrove dalam satu kawasan.

Konsep ini menggabungkan perikanan (ikan, udang, kepiting) dengan hutan mangrove untuk menjaga ekologi sekaligus memberi keuntungan ekonomi bagi masyarakat pesisir. Serta memberdayakan pengolahan turunan kelapa bernilai tinggi. Model ini terbukti menjaga lingkungan dan memperkuat ekonomi desa.

Dorong ekonomi hijau berbasis gambut basah paludikultur (sistem budidaya tanaman di lahan basah tanpa mengeringkan lahannya), seperti sagu.

Kita tidak bisa membiarkan kebijakan pembangunan yang menukar air bersih dengan asap, dan menukar tanah subur dengan lumpur asin. Indragiri Hilir adalah jantung rawa Riau. Bila jantung ini berhenti berdetak, maka seluruh ekosistem pesisir akan mati perlahan. Gambut bukan lahan kosong, ia menyimpan air, karbon, dan masa depan. Dan masa depan itu tidak boleh digadaikan hanya demi lembaran kertas.

Riau dikenal sebagai salah satu provinsi dengan lahan gambut luas yang memiliki kandungan karbon yang tinggi. Jika dikeringkan, akan sangat besar pelepasan karbon, menyumbang emisi gas rumah kaca.

Masyarakat Indragiri Hilir banyak yang menggantungkan hidup pada rawa, kebiasaan nelayan sepulang dari memvari ikan, mereka juga bercocok tanam di kebun kecil yang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Apabila terjadi konversi lahan bisa mengganggu ekosistem ikan dan tumbuhan rawa yang menjadi sumber makanan penghidupan mereka.

Di perparah lagi area gambut yang kering sering kali menjadi sumber kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau panjang.

Indragiri Hilir kini berada di persimpangan jalan. Jika dilakukan pembiaran korporasi menggantikan kelapa dengan akasia, maka negeri ini akan kehilangan jati dirinya.

Bencana alam tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan dengan kebijakan restoratif yang berpihak pada rakyat. Pemerintah harus bertindak cepat untuk memulihkan tata kelola air, menghentikan ekspansi sawit dan akasia di lahan gambut, serta mengembalikan Inhil ke jalur pembangunan berkelanjutan berbasis kelapa dan ekosistem pesisir.

“Gambut adalah warisan hidup. Sekali rusak, butuh ratusan tahun untuk pulih”

Salam lestari./one B

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!