Abrasi Beruntun Tiga Kali dalam Dua Hari, Pemda Inhil Harus Bergerak Sebelum Bencana Ini Memakan Korban Jiwa

0
Screenshot_2026-06-18-05-32-07-31_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

Indragiri Hilir, detikriau.id – Tiga kejadian abrasi dalam dua hari berturut-turut menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh lagi dianggap sebagai peristiwa biasa. Daratan terus terkikis, rumah warga mulai terdampak, namun hingga kini masyarakat masih menunggu langkah nyata yang mampu menjawab ancaman yang semakin nyata di depan mata.

Pada 16 Juni 2026, dua titik abrasi terjadi di Kelurahan Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah. Delapan kepala keluarga terdampak di Kampung Jawa RT 001 RW 006 dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp120 juta. Tidak lama berselang, abrasi kembali terjadi di RT 001 RW 001 yang berdampak pada lima kepala keluarga dengan estimasi kerugian sekitar Rp200 juta.

Belum selesai masyarakat dihantui rasa cemas, keesokan harinya (17/6/2026), longsor akibat abrasi kembali terjadi di kawasan Pasar Lama, Kelurahan Enok, Kecamatan Enok. Empat rumah warga mengalami kerusakan dan sebelas jiwa terdampak.

Rentetan kejadian ini memperlihatkan satu fakta yang sulit dibantah, ancaman abrasi di wilayah pesisir dan bantaran sungai Indragiri Hilir semakin serius. Yang menjadi pertanyaan, apakah pemerintah akan terus menunggu sampai jumlah rumah yang hilang bertambah dan kerugian warga semakin besar.

Masyarakat tidak membutuhkan sekadar pendataan dan laporan pasca kejadian. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata, cepat dan terukur. Sebab abrasi tidak pernah menunggu proses administrasi. Setiap pasang air yang datang berpotensi membawa pergi sebagian daratan yang menjadi tempat tinggal masyarakat.

Peringatan dari BPBD tentang potensi abrasi susulan seharusnya menjadi dasar kuat bagi pemerintah daerah untuk segera menetapkan langkah-langkah mitigasi yang konkret. Jangan sampai peringatan tersebut hanya berakhir sebagai dokumen laporan tanpa tindak lanjut yang dapat dirasakan masyarakat.

Abrasi yang terjadi berulang kali dalam waktu berdekatan bukan lagi sekadar bencana alam biasa. Ini adalah peringatan keras bahwa perlindungan kawasan rawan abrasi harus menjadi prioritas. Sebab ketika ancaman sudah terlihat jelas, tetapi upaya penanganan belum berjalan sebanding dengan tingkat resiko yang dihadapi warga, maka yang tumbuh di tengah masyarakat adalah rasa khawatir dan pertanyaan mengenai keseriusan penanganan masalah tersebut.

Jangan menunggu korban jiwa untuk membuktikan bahwa situasi ini darurat. Jangan menunggu rumah-rumah berikutnya jatuh ke sungai untuk menyadari bahwa abrasi telah menjadi ancaman nyata. Pemerintah daerah harus hadir dengan langkah yang lebih dari sekadar respon pasca bencana. Yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian mengambil tindakan sebelum bencana berikutnya kembali mengingatkan kita dengan cara yang lebih tragis./wan bundo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!