Ketika Kepedulian Bertemu Fakta: Mak Udin Ditengah Realitas Kemiskinan Inhil

0
unduh3

detikriau.id – Terik siang itu seperti tak mengenal ampun. Jarum jam baru menunjuk pukul 13.15 WIB, Ahad (1 Maret 2026), ketika suhu udara di Tembilahan mencapai 33 derajat Celsius. Di tengah panas Ramadan yang menyengat, sebuah mobil berhenti di Jalan Kembang, Gang Cahaya, Kecamatan Tembilahan. Dari sanalah langkah kepedulian itu dimulai.

Ketua Umum Kerukunan Keluarga Indragiri Hilir (KKIH), Dr. Hj. Nurlia, SH, MH, datang bukan sekadar untuk bersilaturahmi. Ia sengaja ingin melihat langsung kondisi seorang warga yang oleh tetangga sekitar akrab disapa Mak Udin.

Rumah yang dituju bukanlah rumah megah. Bangunan rumah sewa itu berdiri sederhana, berukuran sekira 4×6 meter, seluruhnya bermaterial kayu yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Beberapa bagian dinding terlihat rapuh, lantai kayu berderik pelan saat diinjak. Di rumah sewaan kecil itulah enam jiwa berteduh dari panas dan hujan.

Mak Udin kini tak lagi dapat melihat dunia. Penglihatannya telah lama hilang. Dalam usia senja, ia menghadapi kenyataan yang lebih sunyi, anaknya, Udin yang selama ini menjadi sandaran dan membantu aktivitas kesehariannya telah meninggal dunia belum lama ini. Sejak itu, hari-harinya dijalani dalam gelap, tanpa tangan yang dulu setia menuntunnya.

Suasana siang Ramadan terasa semakin haru ketika Nurlia duduk di ruang sempit itu, mendengarkan kisah hidup yang tak banyak diketahui orang.

“Kita sengaja datang untuk melihat langsung kondisi Mak Udin. Beliau dalam kondisi buta. Apalagi setelah anaknya Udin meninggal dunia, otomatis tidak ada lagi yang merawat,” ujar Nurlia lirih.

Di rumah sewa itu, ternyata bukan hanya Mak Udin yang memikul beban hidup. Satu keluarga lain juga menumpang di tempat yang sama, sepasang suami istri, seorang anak mereka, serta seorang ibu yang juga mengalami kebutaan. Dalam satu atap yang ringkih, dua orang lansia tanpa penglihatan bertahan bersama keterbatasan.

Sang suami bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu rumah ibadah di sekitar lokasi. Penghasilannya jauh dari cukup. Sementara sang istri terpaksa menjadi peminta-minta demi menambah biaya kebutuhan harian. Mereka bahkan tidak memiliki sebidang tanah pribadi untuk sekadar bermimpi membangun rumah layak.

Melihat kenyataan itu, Nurlia menyampaikan niat konkret.

Ketua Umum Kerukunan Keluarga Indragiri Hilir (KKIH), Dr. Hj. Nurlia, SH, MH saat mengunjungi rumah kediaman mak udin di jalan kembang gg cahaya, Tembbilahan, ahad (1/3/2026)/foto: arsip detikriau.id

“Kita bermaksud untuk membawa dan menempatkan Mak Udin di panti werdha agar kehidupan ke depannya dapat lebih terawat dan ada yang memperhatikan semua kebutuhannya di usia senja,” tegasnya.

Tak hanya itu, ia juga berkomitmen mencarikan solusi hunian yang lebih layak bagi keluarga lain yang tinggal bersama Mak Udin.

“Kita akan usahakan keluarga ini mendapatkan bantuan rumah layak huni. Karena mereka pun tidak memiliki tanah milik pribadi untuk dibangun, kita juga akan bantu,” katanya.

Di tengah percakapan yang sederhana itu, ada satu kalimat yang terasa menancap lebih dalam.

“Banyak Mak Udin–Mak Udin lainnya yang bernasib tidak seberuntung kebanyakan dari kita.”

Ramadan, yang kerap dimaknai sebagai bulan berbagi, seperti menemukan wajah nyatanya di Gang Cahaya siang itu. Panas 33 derajat seakan tak berarti dibanding panasnya perjuangan hidup yang dijalani sebagian warga dalam diam.

Nurlia pun mengajak semua pihak untuk tak menutup mata.

“Saya mengajak semua pihak untuk peduli, termasuk warga Inhil di perantauan. Sisihkan sedikit harta yang dititipkan Allah kepada kita untuk membantu warga, saudara-saudara kita yang masih hidup dalam berbagai kekurangan.”

Di sebuah gang kecil di Tembilahan, di rumah kayu yang nyaris rapuh, siang itu bukan hanya kunjungan yang terjadi. Ada harapan yang diketuk, ada empati yang dihidupkan, dan ada pesan yang ditinggalkan, bahwa kepedulian, sekecil apa pun, bisa menjadi cahaya bagi mereka yang hidup dalam gelap.

Situasi Kemiskinan di Inhil dalam Angka

Kisah Mak Udin bukanlah kasus tunggal. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Kabupaten Indragiri Hilir pada Maret 2024 tercatat sekitar 5,66%, dengan jumlah ±41.049 jiwa hidup di bawah garis kemiskinan.

Garis kemiskinan sendiri meningkat dari tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa kebutuhan hidup dasar semakin menekan kemampuan ekonomi masyarakat.

Meski menurut data terbaru per November 2025 angka kemiskinan menurun menjadi sekitar 4,95%, tren penurunan ini tetap memperlihatkan bahwa puluhan ribu warga masih menghadapi kesulitan ekonomi signifikan di daerah pesisir ini./red/Faisal Alwie

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *