UHC Inhil: Jangan Curi Peran Rakyat

0

Opini Redaksi: Faisal Alwie

” Jika sejarah kebijakan ingin ditulis dengan benar, maka harus ditegaskan: penghargaan ini bukan milik birokrasi, bukan pula alat pencitraan, melainkan cermin perlawanan kebutuhan rakyat terhadap kelambanan negara”

detikriau.id/ – Penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Madya untuk Kabupaten Indragiri Hilir tidak boleh dibaca sebagai kisah manis keberhasilan pemerintah daerah. Jika dipaksakan demikian, publik justru sedang disuguhi narasi yang menyesatkan dan mengaburkan fakta kebijakan.

Capaian 98 persen kepesertaan UHC bukanlah buah visi progresif eksekutif, melainkan hasil tekanan keras dalam pembahasan APBD 2026. Di ruang politik anggaran itulah DPRD Inhil mengambil posisi tegas: menutup celah kompromi, memaksa kejelasan, dan mengunci komitmen agar UHC tidak lagi menjadi proyek setengah jalan.

Lebih terang lagi, penganggaran iuran UHC selama 12 bulan penuh bukan keputusan yang lahir dari kemauan tulus pemerintah daerah, melainkan respons atas tekanan berlapis—dari DPRD dan dari masyarakat yang menjadi korban kebijakan kesehatan yang tidak konsisten.

Ini harus dicatat sebagai peringatan politik:

Tanpa DPRD yang menekan, UHC akan tetap rapuh.

Tanpa masyarakat yang bersuara, layanan kesehatan akan terus dikalkulasi dengan logika untung-rugi.

Dan tanpa kontrol publik, kebijakan sosial akan selalu kalah oleh kepentingan birokrasi.

Karena itu, mengklaim penghargaan UHC Madya sebagai prestasi tunggal Pemkab adalah bentuk pengaburan peran rakyat. Ini bukan sekadar soal etika, tetapi soal kejujuran demokrasi. Negara baru bergerak ketika dipaksa—dan itu fakta yang tak bisa ditutup dengan plakat penghargaan.

Pemerintah daerah seharusnya berhenti merayakan simbol dan mulai menghormati proses. UHC di Inhil lahir bukan dari belas kasih kekuasaan, melainkan dari tekanan politik yang sah dan suara rakyat yang keras.

Jika sejarah kebijakan ingin ditulis dengan benar, maka harus ditegaskan: penghargaan ini bukan milik birokrasi, bukan pula alat pencitraan, melainkan cermin perlawanan kebutuhan rakyat terhadap kelambanan negara.

UHC Inhil adalah peringatan. Bukan akhir cerita.!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *