“Wahyu, putra Ibu Gusnidar mengaku sangat kecewa terhadap pelayanan dan komunikasi KBRI Singapura dalam menangani persoalan yang dihadapi ibunya”
Tembilahan, detikriau.id — Ibu Gusnidar (82), Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, akhirnya berhasil dipulangkan ke Tanah Air dan kini menjalani perawatan di RSBP Batam.
Namun, kepulangan Ibu Gusnidar justru memunculkan tanda tanya serius mengenai koordinasi dan komunikasi antara KBRI Singapura dengan pihak keluarga.
Pasalnya, ketika detikriau.id melakukan konfirmasi kepada perwakilan KBRI Singapura, Thomas Siregar (9/9/2026), mengenai apakah KBRI mengetahui kondisi dan rencana pemulangan Ibu Gusnidar, jawaban yang diberikan justru menunjukkan bahwa proses pemulangan masih dalam tahap koordinasi.
“Saat ini Tim KBRI Singapura tengah membantu proses pemulangan Bu Gusnidar yakni memastikan dengan pihak RS CGH bahwa kondisi Bu Gusnidar sudah diperbolehkan untuk dipindahkan ke Indonesia. KBRI juga akan melakukan kontak dengan rumah sakit di Batam untuk bisa menerima perawatan Bu Gusnidar di sana.”
Thomas juga menyampaikan bahwa keluarga diminta memastikan kepesertaan BPJS Ibu Gusnidar dalam keadaan aktif.
“Untuk itu, KBRI minta pihak keluarga dapat memastikan bahwa BPJS Bu Gusnidar dalam keadaan aktif. Untuk perkembangan selanjutnya akan diinfokan oleh Tim KBRI melalui Pak Wahyu. Terima kasih.”
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Ibu Gusnidar sebenarnya telah berhasil dipulangkan ke Indonesia pada 8 September 2026 malam dan saat ini sudah menjalani perawatan di RSBP Batam.
Fakta tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah KBRI Singapura tidak mengetahui bahwa Ibu Gusnidar telah dipulangkan dan bahkan sudah mendapatkan perawatan di Batam.
KELUARGA UPAYAKAN PEMULANGAN SENDIRI
Sebelum akhirnya tiba di Indonesia, proses pemulangan Ibu Gusnidar disebut dilakukan melalui upaya keluarga yang bekerja sama dengan layanan agen kesehatan di Singapura.
Artinya, ketika KBRI masih menyampaikan bahwa pihaknya sedang memastikan pemindahan pasien dari Changi General Hospital (CGH) ke Indonesia, proses tersebut ternyata telah dilakukan dan Ibu Gusnidar sudah berada di Batam.
Kondisi ini semakin memperkuat kekecewaan keluarga.
Wahyu, putra Ibu Gusnidar, sebelumnya mengaku sangat kecewa terhadap pelayanan dan komunikasi KBRI Singapura dalam menangani persoalan yang dihadapi ibunya.
Menurut keluarga, persoalan utama bukan semata-mata mengenai apakah KBRI memberikan bantuan atau tidak. Yang dipersoalkan adalah komunikasi dan koordinasi yang dinilai tidak berjalan secara konsisten.
“Kami sangat kecewa dengan pelayanan KBRI Singapura. Sampai ibu kami dipulangkan, tidak ada lagi komunikasi dari pihak KBRI kepada keluarga. Padahal sebelumnya kami sudah meminta bantuan dan berharap ada pendampingan yang lebih nyata,” ujar Wahyu saat dikonfirmasi (9/9/2026)
Wahyu pun berharap pengalaman yang dialami keluarganya tidak kembali terjadi kepada WNI lainnya.
“Kami berharap ke depan tidak ada lagi keluarga WNI yang mengalami kondisi seperti kami. Kalau memang negara punya keterbatasan, sampaikan secara terbuka kepada keluarga. Jangan sampai keluarga menunggu tanpa kepastian,” tegasnya.
KBRI SEBUT MASIH BERKOORDINASI, PASIEN SUDAH TIBA DI RSBP BATAM
Perbedaan antara informasi yang disampaikan KBRI dan kondisi faktual Ibu Gusnidar di Batam menjadi bagian paling krusial dalam kasus ini.
Di satu sisi, KBRI menyatakan sedang memastikan kepada CGH bahwa Ibu Gusnidar apakah sudah diperbolehkan dipindahkan ke Indonesia dan akan menghubungi rumah sakit di Batam.
Di sisi lain, pasien telah dipulangkan dan kini menjalani perawatan di RSBP Batam.
Perbedaan informasi tersebut setidaknya menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana komunikasi KBRI dengan keluarga dan pihak-pihak yang menangani proses pemulangan berlangsung.
Apalagi, KBRI sendiri menyebut perkembangan selanjutnya akan disampaikan kepada keluarga melalui Wahyu.
Jika komunikasi tersebut berjalan sebagaimana mestinya, semestinya informasi mengenai proses pemulangan dan keberadaan pasien di Batam dapat diketahui secara bersama.
KELUARGA MENUNGGU KEHADIRAN NEGARA YANG KONKRIT
Kasus Ibu Gusnidar bermula ketika perempuan berusia 82 tahun tersebut berada di Singapura untuk mengunjungi keluarga. Ia kemudian mengalami stroke pada 11 Agustus 2026 dan menjalani perawatan di CGH dalam kondisi koma.
Persoalan semakin berat ketika biaya perawatan terus membengkak hingga lebih dari Sin$30.000.
Dalam kondisi seperti itu, keluarga berharap kehadiran negara tidak berhenti pada komunikasi awal atau pernyataan bahwa koordinasi sedang dilakukan.
Keluarga membutuhkan pendampingan yang nyata, informasi yang jelas, serta koordinasi yang tidak terputus, terutama ketika menyangkut keselamatan seorang WNI lanjut usia dalam kondisi kritis.
Kini Ibu Gusnidar sudah kembali ke Tanah Air.
Ia telah melewati perjalanan panjang dari Singapura dan kini melanjutkan perawatan di RSBP Batam.
Namun, kepulangannya meninggalkan satu pertanyaan yang belum terjawab.
Mengapa ketika Ibu Gusnidar sudah berada di Indonesia dan menjalani perawatan di RSBP Batam, KBRI Singapura masih menyampaikan bahwa proses pemulangannya sedang diupayakan.
Apakah ini sekadar keterlambatan informasi, atau menunjukkan adanya persoalan koordinasi antara KBRI Singapura, keluarga, rumah sakit dan pihak yang membantu proses pemulangan Ibu Gusnidar
Publik tentu berhak mendapatkan penjelasan.
Dalam kasus perlindungan WNI di luar negeri, kehadiran negara bukan hanya diukur dari ada atau tidaknya bantuan, tetapi juga dari seberapa baik negara memastikan komunikasi, koordinasi dan pendampingan berjalan sampai persoalan benar-benar selesai.
Untuk menjaga keberimbangan pemberitaan, detikriau.id masih berupaya memperoleh penjelasan lebih lanjut dari KBRI Singapura mengenai perbedaan informasi tersebut.
Khususnya mengenai kapan KBRI terakhir berkomunikasi dengan keluarga, apakah KBRI mengetahui proses pemulangan Ibu Gusnidar pada 8 September 2026, siapa yang mengoordinasikan pemulangan hingga pasien tiba di Batam, serta mengapa ketika pasien telah berada di RSBP Batam KBRI masih menyampaikan bahwa proses pemulangan sedang dilakukan./wan bundo

