Site icon

Monyet Diduga Penyerang 19 Warga Inhil, Ini Kabar Terbarunya

Screenshot_2026-09-01-15-55-16-95_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

“… kepastian satwa tersebut sebagai pelaku serangan terhadap 19 warga masih menjadi pertanyaan”

Indragiri Hilir, detikriau.id — Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang ditangkap setelah rangkaian serangan terhadap warga di Indragiri Hilir ternyata berada dalam kondisi kesehatan yang tergolong baik.

Update tersebut diperoleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Indragiri Hilir dari laporan hasil observasi BBKSDA Riau, per Senin, 31 Agustus 2026.

Dalam laporan observasi BBKSDA Riau, satwa disebut aktif, responsif dan cerah. Nafsu makannya juga baik. Dari pakan berupa sayur-mayur dan buah-buahan yang diberikan, sekitar 90 persen dihabiskan.

Pemeriksaan fisik juga menunjukkan tidak adanya luka. Mata bersih, refleks mata baik, rambut mengilap, mukosa pink rose, serta fungsi saraf dan keseimbangan dinyatakan baik. Sementara Body Condition Score (BCS) berada pada angka 3 atau kategori ideal.

Namun, ada satu catatan yang menarik perhatian.

Monyet tersebut masih menunjukkan perilaku waspada dan sesekali agresif. BBKSDA menyebut agresivitas itu tidak sampai berupa serangan, melainkan merupakan perilaku perlindungan diri.

Temuan ini tentu menjadi bagian penting dari rangkaian observasi, mengingat satwa tersebut sebelumnya dikaitkan dengan serangkaian serangan yang menyebabkan 19 warga menjadi korban di Inhil.

Sebelumnya, dalam laporan observasi BBKSDA yang diteruskan kepada DPKP Inhil, satwa juga dinyatakan memiliki nafsu makan baik, aktif dan agresif, serta kondisi feses normal. Hasil rapid test per 9 Agustus untuk dugaan TB, herpes dan hepatitis juga dinyatakan negatif.

Namun, hingga kini masih terdapat celah penting dalam proses pembuktian.

BBKSDA belum dapat melakukan pemeriksaan DNA untuk menghubungkan satwa tersebut dengan korban, karena tidak terdapat bagian tubuh korban yang masuk ke dalam sistem pencernaan satwa sehingga sampel darah maupun feses tidak dapat digunakan untuk pemeriksaan tersebut.

Artinya, kondisi kesehatan satwa sudah semakin jelas, tetapi pertanyaan mengenai keterkaitannya dengan seluruh rangkaian serangan belum sepenuhnya terjawab melalui pemeriksaan ilmiah yang disebutkan dalam laporan.

Kepala DPKP Inhil Junaidi, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (1/9/2026), mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan BBKSDA Riau untuk memantau perkembangan kondisi satwa tersebut.

“Kita terus berkoordinasi dengan pihak BBKSDA dalam memantau perkembangan kondisi kera tersebut,” ujarnya.

Kini perhatian publik bukan hanya tertuju pada sehat atau tidaknya monyet yang diamankan, tetapi juga pada kesimpulan akhir BBKSDA Riau setelah masa observasi, apakah karakter perilaku satwa tersebut memiliki kecocokan dengan laporan serangan terhadap 19 warga, atau masih diperlukan pembuktian dan penelusuran lebih lanjut./wan bundo

Exit mobile version