Site icon

Ahli Primata Ungkap Penyebab Serangan Monyet, Fenomena di Tembilahan Diduga Dipicu Perubahan Perilaku Satwa

Screenshot_2026-08-05-14-33-38-71_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12

TEMBILAHAN, detikriau.id – Teror monyet liar yang telah melukai sedikitnya belasan warga di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), dinilai sejalan dengan temuan para ahli primata yang menyebut konflik antara manusia dan monyet umumnya dipicu oleh perubahan perilaku satwa akibat interaksi yang terlalu intens dengan manusia.

Hingga awal Agustus 2026, jumlah korban serangan monyet liar di Tembilahan terus bertambah, sementara tim gabungan masih melakukan pencarian dan upaya penangkapan satwa tersebut untuk mencegah jatuhnya korban baru.

Fenomena tersebut mendapat penjelasan dalam artikel ilmiah berjudul Why Monkeys Attack People: A Primate Expert Explains yang ditulis Tracie McKinney, Associate Professor of Biological Anthropology, dan dipublikasikan oleh The Conversation.

Dalam artikelnya, McKinney menjelaskan monyet pada dasarnya bukan satwa yang menjadikan manusia sebagai sasaran. Namun, perilaku mereka dapat berubah ketika terlalu sering berinteraksi dengan manusia, terutama apabila terbiasa memperoleh makanan dari manusia.

Kondisi tersebut dikenal sebagai over-habituation, yakni hilangnya rasa takut monyet terhadap manusia akibat interaksi yang berlangsung berulang kali. Ketika kondisi itu terjadi, monyet mulai menganggap manusia sebagai sumber makanan sehingga menjadi lebih berani mendekat, merebut barang bawaan, bahkan menyerang apabila merasa terancam atau gagal memperoleh makanan yang diharapkan.

McKinney juga menjelaskan bahwa monyet merupakan primata yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi, mampu belajar dari pengalaman, serta meniru perilaku sesamanya. Karena itu, perubahan perilaku dapat terjadi dalam waktu relatif singkat apabila satwa terus memperoleh pengalaman yang sama saat berhadapan dengan manusia.

Selain faktor makanan, konflik juga dipicu karena banyak orang tidak memahami bahasa tubuh monyet. Sebelum menyerang, satwa tersebut umumnya telah menunjukkan tanda-tanda agresi seperti menatap tajam, memperlihatkan gigi, menggeram, atau melakukan gerakan mengintimidasi. Sinyal itu kerap diabaikan sehingga meningkatkan risiko terjadinya serangan.

Para ahli menyarankan masyarakat untuk tidak memberi makan monyet liar, menjaga jarak aman, menghindari kontak mata secara langsung, tidak memancing interaksi, serta segera melaporkan keberadaan satwa kepada instansi berwenang agar penanganannya dilakukan sesuai prosedur konservasi.

Kasus di Tembilahan menjadi pengingat bahwa penanganan konflik satwa liar tidak hanya berfokus pada penangkapan hewan, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat agar tidak menciptakan kebiasaan yang membuat satwa kehilangan naluri alaminya terhadap manusia./red

Exit mobile version