Karhutla Mendekati Permukiman, Warga Rupat Utara Dibayangi Ancaman Api
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}
Pekanbaru, detikriau.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau kian mengkhawatirkan. Di Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara, api dilaporkan terus bergerak mendekati kawasan permukiman warga, memicu kekhawatiran akan potensi dampak yang lebih luas.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyebutkan tim gabungan saat ini masih berjibaku di lapangan untuk menahan laju api agar tidak masuk ke area hunian.
“Pemadaman di Desa Titi Akar masih berlangsung. Kami kerahkan 1 tim daops Sarolangun, 1 tim daops Musi Banyuasin, dan 2 tim dari daops Dumai. Fokus utama saat ini menyekat api yang mengarah ke permukiman,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Namun, kondisi di lapangan tidak berpihak. Angin kencang yang berubah-ubah arah membuat pergerakan api sulit diprediksi, sementara sumber air di sekitar lokasi sangat terbatas.
“Angin kencang dan tidak menentu menjadi kendala utama. Ditambah lagi sumber air minim, sehingga pemadaman dilakukan dengan kombinasi pompa mesin dan pompa punggung,” jelasnya.
Situasi ini membuat potensi api menjalar ke pemukiman semakin terbuka, terutama jika upaya penyekatan tidak maksimal.
Untuk mencegah skenario terburuk, bantuan udara pun telah diajukan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau guna melakukan water bombing pada titik api yang terus bergerak ke arah hutan lebat.
“Kami minta dukungan satgas udara untuk menjinakkan kepala api yang menuju kawasan rimba dengan vegetasi padat. Ini penting agar api tidak semakin membesar dan mendekati warga,” tegas Ferdian.
Di tengah ancaman tersebut, kabar baik datang dari Pulau Muda. Area yang sebelumnya terbakar kini telah dinyatakan padam setelah proses pendinginan dan pengecekan menyeluruh.
“Tim daops Rengat sudah memastikan kondisi di Pulau Muda clear and clean,” katanya.
Meski begitu, potensi kebakaran baru masih terus diantisipasi. Satu regu dari daops Rengat kini bergerak menuju Gambut Mutiara, Kecamatan Teluk Meranti, yang terindikasi mengalami kebakaran.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus mempercepat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan risiko meluasnya kebakaran.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Riau, Jim Gafur, menyebutkan OMC tahap kedua telah berjalan sejak 28 Maret hingga 1 April, dengan total 11 ton garam disemai untuk memicu hujan buatan.
“OMC difokuskan di wilayah pesisir timur Riau, termasuk daerah rawan karhutla seperti Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan, dan Dumai,” ujarnya.
Selain itu, satu unit helikopter water bombing juga telah disiagakan. Namun, dengan luas kebakaran yang terus bertambah, BPBD Riau tengah mengajukan penambahan armada udara.
“Penambahan helikopter sangat dibutuhkan. Saat ini masih dalam proses karena perizinannya cukup panjang,” tutupnya./mcr/editor: red
