Tembilahan Konsisten Catat Inflasi Tertinggi di Riau, Februari 2026 Tembus 7,32 Persen
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi.
Inhil, detikriau.id – Tembilahan kembali menjadi daerah dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di Provinsi Riau. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik Provinsi Riau menunjukkan, pada Februari 2026 inflasi year on year (y-on-y) di Tembilahan mencapai 7,32 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,24.
Angka tersebut melampaui rata-rata inflasi Provinsi Riau yang tercatat 5,30 persen dengan IHK 112,06. Bahkan, jika dibandingkan dengan daerah lain yang dipantau, selisihnya cukup mencolok. Kabupaten Kampar misalnya, hanya mencatat inflasi 5,14 persen pada periode yang sama.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menyebutkan bahwa secara umum inflasi tahunan di Riau terjadi akibat kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran, dengan lonjakan tertinggi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 19,60 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 16,27 persen.
Namun yang menjadi sorotan, Tembilahan bukan hanya memimpin inflasi pada Februari 2026. Sebulan sebelumnya, Januari 2026, kota ini juga mencatat inflasi tertinggi di Riau. Saat itu inflasi y-on-y di Tembilahan mencapai 6,38 persen, jauh di atas rata-rata provinsi sebesar 4,43 persen.
Artinya, dalam dua bulan berturut-turut, tekanan harga di Tembilahan berada di atas rata-rata Provinsi Riau, bahkan dengan tren yang meningkat dari 6,38 persen pada Januari menjadi 7,32 persen pada Februari 2026.
Secara umum, kenaikan harga di Riau didorong oleh sejumlah komoditas dominan seperti tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, ayam hidup, biaya pendidikan akademi dan perguruan tinggi, bawang merah, beras, hingga sewa rumah. Sementara beberapa komoditas seperti cabai merah, kentang, bensin dan minyak goreng justru menyumbang deflasi.
Meski secara bulanan (m-to-m) Riau pada Februari 2026 hanya mengalami inflasi 0,32 persen dan secara tahun kalender (y-to-d) masih tercatat deflasi 0,12 persen, tekanan harga tahunan di Tembilahan tetap menjadi yang paling tinggi di antara daerah pemantauan.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk memperkuat pengendalian harga, terutama pada kelompok perumahan dan kebutuhan dasar yang menjadi penyumbang terbesar inflasi. Jika tren ini berlanjut, daya beli masyarakat Tembilahan berpotensi tergerus lebih dalam dibandingkan wilayah lain di Riau./red
