Desa Tanpa Status Tertinggal, Riau Klaim Lompatan Pembangunan dari Pinggiran
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto
Pekanbaru, detikriau.id – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menegaskan arah pembangunan Provinsi Riau kini bertumpu pada desa sebagai pusat pertumbuhan baru, bukan lagi sekadar objek pembangunan.
Dalam ekspos Satu Tahun Kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau Masa Bakti 2025–2030 di Balai Pauh Janggi, Jumat (20/2/2026), ia memaparkan bahwa kebijakan “Riau Membangun Desa, Memajukan Kota” telah menunjukkan hasil konkret.
Indikator paling mencolok adalah capaian Indeks Desa Provinsi Riau Tahun 2025 yang menempatkan Riau di peringkat 10 nasional dengan skor 76,279 dan berstatus maju.
“Alhamdulillah, Indeks Desa Riau berada di peringkat 10 nasional dengan status maju. Ini menunjukkan pembangunan desa di Riau berada pada jalur yang tepat,” ujar SF Hariyanto.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pada 2025 tidak ada lagi desa berstatus sangat tertinggal maupun tertinggal di Riau. Dari total 1.591 desa, komposisinya kini didominasi desa berstatus mandiri dan maju.
Rinciannya:
Desa Mandiri: 759 desa
Desa Maju: 471 desa
Desa Berkembang: 361 desa
Desa Tertinggal: 0
Desa Sangat Tertinggal: 0
Capaian tersebut dinilai sebagai lompatan signifikan dalam pemerataan pembangunan berbasis desa.
Rp40,29 Miliar Dikucurkan untuk Desa
Untuk memperkuat fondasi itu, Pemprov Riau pada 2025 mengalokasikan Bantuan Keuangan Provinsi untuk 1.579 desa dengan total anggaran Rp40,29 miliar.
Dana tersebut diarahkan untuk pembangunan infrastruktur dasar, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi desa.
“Kami ingin memastikan desa menjadi pusat pertumbuhan baru. Bantuan keuangan ini adalah bentuk keberpihakan pemerintah agar desa semakin mandiri dan produktif,” jelasnya.
BUMDesa Jadi Lokomotif Ekonomi
Selain infrastruktur, penguatan ekonomi desa juga dilakukan melalui pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Pasca intervensi Bantuan Keuangan Khusus (BKK), jumlah BUMDesa tercatat 1.260 unit.
Dengan klasifikasi:
Dasar/Perintis: 359 unit
Tumbuh/Pemula: 110 unit
Berkembang: 403 unit
Maju: 388 unit
Menurut SF Hariyanto, peningkatan status BUMDesa menjadi indikator penting kemandirian ekonomi desa.
“BUMDesa harus menjadi lokomotif ekonomi desa. Dengan penguatan kelembagaan dan dukungan pembiayaan, kita ingin desa mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Dengan capaian tersebut, Pemprov Riau menempatkan desa bukan lagi sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan./mcr/editor: red
