Februari 16, 2026

Teror Harimau Sumatera Hantui Warga Benteng Hulu, Aktivitas Lumpuh dan Ternak Jadi Korban

Siak, detikriau.id/ – Warga Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau, hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Seekor harimau sumatera dilaporkan berkeliaran di sekitar permukiman, membuat masyarakat cemas dan membatasi aktivitas di luar rumah. Keberadaan satwa dilindungi itu bukan sekadar isu, melainkan fakta yang terekam jelas kamera CCTV milik warga.

Hingga kini, harimau tersebut belum tertangkap dan belum pula dipastikan meninggalkan wilayah Kampung Benteng Hulu. Ketidakpastian ini menimbulkan rasa was-was yang terus menghantui warga, terutama kekhawatiran akan kemunculan mendadak yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.

“Kami sangat resah dan takut. Tetangga-tetangga juga sama. Masyarakat sekarang takut ke kebun untuk memanen. Saya sendiri was-was kalau mau cari rumput untuk pakan ternak,” ujar Masruri, salah seorang warga setempat.

Kecemasan Masruri bukan tanpa alasan. Ia mengaku harus merelakan dua ekor kambing ternaknya hilang, yang diduga kuat dimangsa harimau. Sejak kejadian itu, Masruri dan keluarganya semakin membatasi aktivitas di luar rumah, terutama pada jam rawan antara pukul 18.00 WIB hingga 08.00 WIB.

“Sejak kambing hilang, saya terpaksa berjaga malam. Takut kalau harimau itu datang lagi,” ungkapnya.

Masruri menyebut, kejadian tersebut telah dilaporkannya kepada pemerintah kecamatan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, BPBD Kabupaten Siak, TNI, hingga aparat kepolisian. Petugas gabungan memang sempat turun ke lokasi, namun hingga kini upaya yang dilakukan baru sebatas pemasangan kamera trap untuk memantau pergerakan harimau.

“Waktu itu dipasang kamera trap, tapi hanya sebatas itu saja. Belum ada upaya nyata untuk menangkap atau memindahkan harimau ke habitatnya,” katanya dengan nada kecewa.

Keresahan warga kembali memuncak setelah harimau sumatera kembali menampakkan diri. Satwa buas tersebut terekam kamera CCTV milik Dewi Rahayu, tetangga Masruri, saat masuk ke pekarangan belakang rumahnya pada Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.

Dewi mengaku, sejak peristiwa itu, ia dan keluarganya semakin takut beraktivitas di malam hari. Apalagi, kamar mandi dan toilet rumahnya berada di luar bangunan utama, berdekatan dengan kandang angsa di bagian belakang rumah.

“Kami jadi sangat takut keluar malam. Semua serba was-was,” ujarnya.

Dewi berharap pihak berwenang segera mengambil langkah konkret untuk mengevakuasi harimau tersebut sebelum terjadi konflik yang lebih besar antara manusia dan satwa liar.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, membenarkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan BBKSDA Riau sebagai instansi yang memiliki kewenangan dalam penanganan satwa dilindungi.

“Kami sudah berkoordinasi dengan BBKSDA. Penanganan harimau ini merupakan kewenangan mereka. Kami turun langsung ke lokasi bersama aparat, memberikan imbauan kepada masyarakat, sambil menunggu langkah-langkah konkret yang akan dilakukan oleh BBKSDA,” jelas Novendra.

Hingga kini, warga Kampung Benteng Hulu masih menunggu tindakan nyata. Di tengah status harimau sebagai satwa dilindungi, keselamatan manusia pun dipertaruhkan—sebuah dilema klasik konflik ruang hidup yang belum juga menemukan jalan keluar./mcr/red