Inhil Selatan, detikriau.id/ – Jalan ini bukan baru rusak kemarin. Warga sudah lama mengeluh, bahkan sebelum musim hujan datang. Setiap kali hujan turun, kondisinya berubah menjadi lumpur pekat—licin, dalam, dan berbahaya. Jejak ban kendaraan terperosok, air menggenang, dan tanah seakan menelan jalan sedikit demi sedikit.
“Parahnya sudah lama,” ujar seorang warga dengan nada lelah. “Kalau hujan, jadi lumpur. Susah lewat.” kata salah seorang warga setempat kepada media kami, senin (9/2/2026)
Beberapa waktu lalu, perbaikan sempat dilakukan. Jalan diratakan, ditimbun seadanya. Harapan pun sempat tumbuh. Namun harapan itu tak bertahan lama. Begitu hujan deras dan banjir datang, jalan kembali rusak, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Seolah perbaikan hanya menjadi jeda singkat sebelum kerusakan berulang.
Lokasi ini berada di Desa Kota Baru, jalur penghubung menuju Desa Kayu Raja. Jalan ini bukan sekadar lintasan tanah, tetapi urat nadi aktivitas warga: anak-anak menuju sekolah, petani mengangkut hasil kebun, hingga kendaraan yang membawa kebutuhan sehari-hari.
Kondisi serupa juga terlihat di desa seberang, tepatnya di wilayah Pebenaan, Parit Pelam. Sebuah mobil pick-up tampak terperosok, rodanya tenggelam dalam lumpur. Bukan karena pengemudi ceroboh, melainkan karena jalan yang tak lagi layak dilalui.
Bagi warga, jalan ini bukan soal nyaman atau tidak. Ini soal keselamatan, ekonomi, dan keberlangsungan hidup. Selama perbaikan hanya bersifat sementara, selama itu pula jalan akan terus rusak—dan keluhan warga akan terus berulang, tenggelam bersama lumpur setiap musim hujan datang./guntur alam

More Stories
Pelaku Penganiayaan Acak di Pasar Tembilahan Ditangkap Kurang dari Dua Jam
Jangan Biarkan Kota Ini Kotor: KKIH Ajak Warga Tembilahan Bergerak Bersama
Polres Indragiri Hilir Gelar Upacara PTDH, Tujuh Personel Resmi Diberhentikan