Februari 17, 2026

Nisfu Syakban 1447 H Jatuh Awal Februari 2026, Ini Makna dan Hal yang Perlu Diketahui

Pekanbaru, detikriau.id/ – Umat Islam akan kembali memperingati Nisfu Syakban 1447 Hijriah, yang merupakan momen pertengahan bulan Syakban dalam kalender Islam. Nisfu Syakban diperingati setiap tanggal 15 Syakban dan kerap dimaknai sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah serta persiapan spiritual menjelang bulan suci Ramadan.

Berdasarkan kalender Hijriah, 15 Syakban 1447 H diperkirakan bertepatan dengan Selasa, 3 Februari 2026. Dengan demikian, malam Nisfu Syakban dimulai pada Senin malam, 2 Februari 2026, setelah waktu Maghrib, karena dalam penanggalan Islam pergantian hari dimulai sejak terbenam matahari.

Nisfu Syakban berasal dari kata nisfu yang berarti setengah, sehingga merujuk pada pertengahan bulan Syakban. Bulan Syakban sendiri merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah, yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadan.

Dalam tradisi keislaman, Nisfu Syakban dipahami sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak doa, serta memohon ampunan kepada Allah SWT. Sebagian umat Islam meyakini malam Nisfu Syakban sebagai malam yang memiliki keutamaan, meskipun para ulama memiliki perbedaan pandangan terkait dalil dan praktik ibadah khusus pada malam tersebut.

Sejumlah amalan yang umum dilakukan umat Islam pada malam Nisfu Syakban antara lain shalat malam, dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa dan istighfar. Selain itu, Nisfu Syakban juga sering dimaknai sebagai sarana memperbaiki niat dan kesiapan diri sebelum memasuki bulan Ramadan.

Di Indonesia, penetapan awal bulan Syakban dan Nisfu Syakban tetap mengacu pada keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat, serta perhitungan dan rukyat yang dilakukan oleh berbagai lembaga dan organisasi keagamaan. Karena itu, masyarakat diimbau tetap mengikuti pengumuman resmi terkait penetapan kalender Hijriah.

Peringatan Nisfu Syakban di berbagai daerah biasanya diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, doa bersama, dan ibadah berjamaah, yang dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kondisi dan situasi setempat./guntur alam