Site icon

Harimau di Pelalawan Tak Tersesat: Hutan yang Dirampas Membawanya ke Ambang Rumah Warga

Pelalawan, detikriau.id/ – Kemunculan harimau Sumatera di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, bukan peristiwa kebetulan. Ia adalah peringatan keras dari alam tentang ruang hidup yang terus menyempit akibat kebijakan yang lebih ramah investasi dibandingkan perlindungan ekosistem.

Video penampakan beberapa individu diduga anak harimau yang viral sejak Senin (19/1/2026) memperlihatkan bagaimana satwa dilindungi itu kini hanya berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari permukiman warga. Jarak yang seharusnya menjadi batas aman antara manusia dan satwa liar, kini kian kabur.

Balai Besar KSDA Riau menyebutkan bahwa lokasi kemunculan berada di perbatasan kawasan hutan yang merupakan jalur pergerakan alami harimau Sumatera. Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi satu hal: yang berpindah bukan harimaunya, tetapi hutannya yang semakin menyempit.

Hasil mitigasi di lapangan mengungkap keberadaan satu kelompok keluarga harimau, terdiri dari seekor induk dan beberapa anak berusia sekitar 4 hingga 5 bulan. Fakta ini menandakan bahwa kawasan tersebut masih—atau pernah—menjadi ruang hidup yang aman sebelum tekanan aktivitas manusia semakin intensif.

Namun, dalam lanskap yang dipenuhi izin pemanfaatan hutan, perkebunan skala besar, dan perubahan tutupan lahan, jalur jelajah satwa kini terpotong-potong. Harimau pun terdesak, bukan karena nalurinya berubah, tetapi karena habitatnya terus dikalahkan oleh kepentingan ekonomi.

Upaya mitigasi melalui penggiringan harimau kembali ke kawasan hutan memang menjadi langkah darurat yang perlu dilakukan. Namun, langkah ini hanya menyentuh gejala, bukan akar persoalan. Tanpa evaluasi serius terhadap kebijakan tata ruang, perizinan kehutanan, dan perlindungan habitat kunci, konflik serupa hanya tinggal menunggu waktu.

Ironisnya, ketika harimau muncul di dekat permukiman, satwa itulah yang sering diberi label “mengancam”. Padahal, ancaman sesungguhnya adalah model pembangunan yang terus mendorong hutan ke titik paling sempitnya.

Peristiwa di Teluk Meranti seharusnya menjadi alarm ekologis bagi pemerintah daerah dan pusat. Keselamatan warga memang mutlak, namun keselamatan itu tidak akan pernah benar-benar terjamin jika akar konflik—yakni rusaknya ruang hidup satwa—terus diabaikan.

Harimau tidak sedang menyerbu desa. Ia sedang mencari sisa hutan yang tersisa./red

Exit mobile version