Site icon

Venue Futsal Inhil: Warisan Nasional yang Terabaikan

Inhil, detikriau.id/ – Venue futsal Indragiri Hilir, salah satu warisan pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Fasilitas yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan dan kesinambungan prestasi olahraga daerah itu justru tampak terabaikan. Padahal, venue ini merupakan bagian dari lima fasilitas cabang olahraga futsal eks PON yang tersebar di tiga kabupaten: Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi.

Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan hampir di seluruh bagian bangunan. Atap bocor hingga membasahi lapangan meski hujan turun singkat. Pintu akses rusak, aliran air tidak berfungsi normal, plafon toilet jebol, dan fasilitas sanitasi tak lagi layak digunakan. Kondisi ini bukan sekadar menurunkan kenyamanan, tetapi juga mengancam keselamatan atlet dan kualitas pembinaan olahraga.

Agustian, atlet futsal profesional asal Indragiri Hilir yang telah berkiprah di level nasional, menyayangkan minimnya perawatan terhadap venue yang dahulu menjadi kebanggaan daerah. Menurutnya, kerusakan lapangan telah berada pada tahap mengkhawatirkan.

“Lapangan di beberapa titik sudah tidak rata. Matras pelapis rusak dan tidak berfungsi maksimal. Ini sangat berisiko, atlet bisa cedera saat latihan,” ujar Agustian. Selasa

Ia juga menyoroti kebocoran bangunan yang kerap terjadi saat hujan. “Bukan hanya atap, air juga masuk ke area lapangan. Kalau dibiarkan, ini bukan lagi tempat latihan, tapi justru sumber bahaya bagi atlet,” tambahnya.

Kerusakan tidak berhenti di situ. Dinding jebol, lantai retak, jendela pecah, hingga indikasi penurunan pondasi akibat turunnya muka tanah semakin mempertegas lemahnya ketahanan bangunan. Jika terus dibiarkan, venue futsal yang seharusnya menjadi ikon pembinaan olahraga Inhil berpotensi berubah menjadi bangunan terbengkalai.

Ironisnya, Indragiri Hilir dikenal sebagai salah satu daerah penghasil atlet futsal berprestasi. Tim futsal Inhil beberapa kali menorehkan prestasi di tingkat provinsi, dan sejumlah putra daerah telah menembus kompetisi futsal profesional nasional. Namun, capaian itu tidak diiringi dengan dukungan infrastruktur yang layak dan berkelanjutan.

Secara administratif, venue futsal hibah PON ini tercatat sebagai aset daerah dengan tanggung jawab pemeliharaan harian berada di bawah Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indragiri Hilir.

Kepala Disparporabud Inhil, Qudri Ramaputera, membenarkan kondisi kerusakan tersebut. Ia mengakui anggaran yang tersedia setiap tahun hanya cukup untuk perawatan rutin.

“Tidak ada anggaran pemeliharaan besar untuk perbaikan menyeluruh. Revitalisasi membutuhkan biaya sangat besar. Dengan kondisi defisit APBD, kami membutuhkan dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat,” ujarnya.

Rama—sapaan akrabnya—juga mengakui bahwa hingga kini belum pernah dilakukan audit fisik dan fungsi terhadap venue futsal pasca PON. Padahal, audit semacam itu merupakan instrumen penting untuk memastikan aset negara tetap berfungsi sesuai peruntukannya.

Untuk jangka menengah, pemerintah daerah menyebut kemungkinan revitalisasi akan dialihkan ke Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PUPR. Namun tanpa dukungan anggaran lintas level pemerintahan, rencana tersebut dinilai sulit direalisasikan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika venue futsal hibah PON—yang merupakan warisan olahraga nasional—saja dibiarkan rusak, apa jaminan aset hibah negara lainnya di Indragiri Hilir tidak bernasib serupa?

Dorongan kepada pemerintah pusat sebenarnya telah dilakukan. Melalui audiensi langsung, Bupati Indragiri Hilir H. Herman bersama Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid menemui Menteri Pemuda dan Olahraga RI Dito Ariotedjo pada Rabu (21/05/2025). Dalam pertemuan tersebut, Bupati Herman secara khusus mengusulkan revitalisasi Venue Futsal Tembilahan dan Stadion Beringin.

foto: detikriau.id/one bundo

Menurutnya, kedua fasilitas tersebut memiliki potensi besar sebagai pusat pembinaan atlet muda dan kegiatan kepemudaan di Indragiri Hilir, namun kini membutuhkan perhatian dan peningkatan serius.

Namun, audiensi tidak boleh berhenti sebagai catatan agenda. Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.

Kementerian Pemuda dan Olahraga perlu menjadikan kasus Venue Futsal Tembilahan sebagai pintu masuk pembenahan nasional terhadap tata kelola aset olahraga eks PON. Jika fasilitas yang telah melahirkan atlet profesional saja dibiarkan rusak, pesan yang sampai ke daerah lain sangat berbahaya: negara hadir saat peresmian, lalu absen saat perawatan.

Revitalisasi venue futsal bukan semata soal memperbaiki bangunan. Ia menyangkut keberlanjutan prestasi, keselamatan atlet, serta tanggung jawab negara dalam menjaga aset hibah olahraga nasional. Tanpa intervensi nyata dari pemerintah pusat yang didorong secara aktif oleh pemerintah daerah, warisan PON XVIII Riau di Indragiri Hilir terancam hilang sebelum sempat diwariskan kepada generasi atlet berikutnya./One Bundo/Red

Exit mobile version