Site icon

Catatan minus Diskusi Publik ”Rencana Hutang Pemda” Tajaan GMNI Inhil

”Diskusi bukan tentang menjaga kenyamanan narasumber, melainkan menjaga akal sehat publik

Inhil, detikriau.id/ – Diskusi publik bertema “Pinjaman 200 Miliar Pemda Inhil, Solusi Pembangunan atau Potensi Krisis Fiskal” (7/12) tajaan GMNI menyisakan catatan yang tidak bisa diabaikan. Seharusnya forum seperti ini bisa menjadi ruang dialektika kritis yang diharapkan publik, namun pada kenyataannya justru tampil layaknya sesi tanya jawab yang kehilangan nyawa debatnya.

Diskusi terkesan justru  menyajikan panggung yang membatasi nalar publik. Para peserta datang dengan antusias berharap mendapatkan hasil dan kesepakatan dari ruang diskusi, namun yang terjadi malah pulang dengan membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Moderator memainkan peran bukan sebagai penjaga alur diskusi, namun terkesan sebagai penyaring kritik.

Pertanyaan dari audiens yang mestinya menjadi inti dan nilai sebuah forum publik terlihat dibatasi, dialihkan, bahkan dipotong sebelum menyentuh substansi. Ditambah lagi moderator hanya memberi jatah satu menit setiap pertanyaan waktu yang sangat minim untuk menggali isu tema diskusi. Akibatnya, diskusi terkesan steril untuk membongkar persoalan serius dibalik rencana pinjaman ratusan miliar tersebut.

Masyarakat ingin kejelasan, mereka ingin mendengar bagaimana rencana pinjaman sebesar itu bisa menjadi pemecah persoalan kebuntuan pembangunan atau justru menjerumuskan daerah ke jurang krisis fiskal akibat ambisi yang salah kaprah.

Publik berharap sebuah diskusi memberi kesempatan penuh bagi pertanyaan kritis, mendapatkan penjelasan yang jujur, dan memastikan setiap pertanyaan masyarakat bisa terjawab.

Esensi diskusi publik bukan terletak pada siapa penyelenggaranya, tetapi pada keberanian semua pihak untuk menghadirkan keterbukaan. Karena hanya melalui dialog yang tidak dibatasi, masyarakat bisa menilai arah kebijakan daerah secara jernih. Dan di tengah isu pinjaman 200 miliar yang sarat kepentingan, transparansi semacam itulah yang paling dibutuhkan.

Diskusi bukan tentang menjaga kenyamanan narasumber, melainkan menjaga akal sehat publik. Jika ruang dialog mulai takut pada pertanyaan, maka itu bukan lagi forum intelektual itu hanya acara yang dikemas rapi untuk menutupi permasalahan.

Terimakasih, semoga tulisan singkat ini dapat dijadikan sebagai masukan dengan harapan adanya perbaikan kedepannya./One B

 

Exit mobile version