Tumbangnya Buaya Raksasa si “Undan”. Belajar dari Luka yang Ditinggalkan !
”barang bukti hidup” dari sebuah ekosistem yang lama dibiarkan penuh racun
Oleh: One B
Inhil, detikriau.id/ – Apa yang sebenarnya terjadi pada buaya si “Undan”.? nama yang diberikan sesuai lokasi penangkapan di sungai Undan kecamatan Reteh kabupaten Indragiri Hilir provinsi Riau, tubuhnya memiliki panjang 5,7 meter dan berat 585 kilogram. Hewan ini diselamatkan pada (31/10). Buaya yang masuk ke permukiman warga saat air pasang besar.
Buaya muara raksasa seberat itu tidak sekadar mati, ia tumbang sebagai “barang bukti hidup” dari sebuah ekosistem yang lama dibiarkan penuh racun. Temuan serpihan plastik, logam, hingga pecahan tabung TV di dalam tubuhnya bukan sekadar benda, kejadian itu adalah kronologi kelalaian manusia yang mengendap lama di dasar sungai.
Tim Damkar Indragiri Hilir menjadi penyelamat terakhir yang mencoba memulihkan kondisi sang predator puncak diperairan rawa Inhil ini. Damkar Inhil telah menjalankan tugas kemanusiaannya merawat, menenangkan, dan mencoba menyelamatkan si Undan yang terluka.
Namun ketika sampah telah bertahun-tahun menjadi “makanan harian”, perawatan beberapa hari hanyalah upaya terakhir yang datang terlambat. Si Undan mati perlahan pada 20/11/25 yang lalu, kalah oleh sesuatu yang bahkan tidak bisa ia lihat kerusakan yang merayap di dalam tubuhnya.
Namun dalam tragedi ekologis seperti ini, permasalahan terbesar bukanlah buaya, melainkan pola pembuangan sampah dan limbah yang tidak pernah terkendali. Sungai yang dulu jernih dan hidup kini berubah menjadi perut besar penuh benda-benda yang tak seharusnya ada di alam.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan organ internal si Undan rusak parah. Benda asing yang mengendap di lambungnya menciptakan luka dalam, infeksi, dan tekanan metabolik yang membuatnya menyerah. Buaya muara, predator yang biasanya tak terkalahkan, roboh bukan oleh alam atau mangsa, tetapi oleh sampah manusia yang mengalir tanpa kendali.
Kematian buaya ini bukan kasus pertama. Di berbagai titik, warga semakin sering berjumpa buaya yang tersesat ke pemukiman, atau mati bahkan sering terjadi konflik antara manusia dan buaya. Ini bukan kebetulan ini tanda bahwa ekosistem sungai sedang berada di bawah tekanan ekstrem.
Matinya si Undan adalah peringatan keras bahwa sungai Indragiri tengah memasuki fase kritis. Jika predator puncak yang tangguh saja roboh oleh sampah, maka kondisi spesies lain dan manusia di hilir sungai bisa jadi sedang menunggu giliran.
Kematian si Undan adalah kesimpulan dari proses panjang yang diabaikan. Sungai yang perlahan menjadi kuburan bagi makhluk yang tak pernah meminta apa-apa selain air yang bersih.
Salam lestari
