Di Bawah Jembatan Rapuh, Petani Kelapa Bertaruh Harapan
Detikriau.id – Pagi di kawasan Paret 18 dan Paret 20 selalu dimulai dengan aktivitas yang sama. Petani menuju kebun kelapa, warga melintas dengan sepeda motor, dan sebuah mobil sayur berusaha melewati jalan sempit yang hanya disambungkan oleh jembatan tua. Namun di balik rutinitas itu, ada rasa waswas yang selalu menyertai setiap orang yang melintas.
Jembatan Paret 20 kini hanya menyisakan papan-papan tua yang mulai lapuk. Beberapa bagiannya sudah tidak rata, bahkan ada yang nyaris patah. Warga masih nekat melintas dengan sepeda motor, tetapi untuk kendaraan roda empat, jembatan itu sudah sangat berisiko.
“Kalau motor masih bisa lewat pelan-pelan. Tapi kalau mobil, sudah sangat susah,” kata seorang warga.
Meski berbahaya, jembatan itu tetap dilalui. Tidak ada jalan lain. Dari sanalah petani membawa hasil kebun, anak-anak pergi ke sekolah, warga menuju pukesmas dan pedagang sayur mengantar dagangan ke kampung-kampung.
Namun beberapa waktu lalu, kejadian yang dikhawatirkan warga benar-benar terjadi. Sebuah mobil yang membawa sayur mencoba melintas di jembatan itu. Papan jembatan yang rapuh tak lagi mampu menahan beban. Kendaraan tersebut tergelincir dan jatuh.
Warga yang berada di sekitar lokasi segera berlari membantu. Dengan tenaga bersama, mereka mencoba mengevakuasi kendaraan yang terperosok. Kejadian itu menjadi bukti bahwa jembatan tersebut sudah tidak lagi aman.
Tidak hanya mobil. Warga yang melintas dengan sepeda motor juga sering terjatuh. Papan yang licin dan tidak rata membuat roda mudah tergelincir. Beberapa orang bahkan jatuh ke parit dan sungai kecil di bawah jembatan.
Jika sudah begitu, masyarakat sekitarlah yang selalu menjadi penolong pertama.
Selama ini, perbaikan jembatan hanya dilakukan seadanya. Warga dan pemerintah desa pernah mencoba memperkuatnya menggunakan batang kelapa sebagai penopang. Gotong royong dilakukan agar jembatan tetap bisa digunakan.
Namun batang kelapa tentu tidak mampu bertahan lama.
“Kalau pakai batang kelapa, tak lama juga rusak lagi,” ujar warga.
Tak jauh dari sana, Jembatan Paret 18 juga menyimpan persoalan lain. Dari atas terlihat masih cukup baik. Namun di bawahnya, tiang-tiang jembatan justru menjadi penghalang bagi para petani kelapa.
Biasanya, kelapa yang dipanen dihanyutkan melalui sungai menggunakan sampan atau mengikuti arus air. Kini, tiang-tiang jembatan membuat jalur itu terhambat.
Akibatnya, pekerjaan petani menjadi jauh lebih berat.
Kelapa harus didorong satu per satu agar bisa melewati bawah jembatan. Saat air surut, mereka bahkan harus turun ke air untuk membantu menggerakkannya.
“Kerja kami jadi dua kali lebih berat,” kata seorang petani. Padahal dulu, sampan masih bisa masuk hingga ke dalam kebun. Motor juga masih bisa digunakan untuk mengangkut hasil panen. Sekarang semua terasa lebih sulit.
Bagi masyarakat di kawasan itu, jembatan bukan sekadar bangunan kayu yang menghubungkan dua sisi jalan. Ia adalah jalur kehidupan. Dari sanalah roda ekonomi bergerak, dari sanalah hasil kebun kelapa keluar menuju pasar.
Namun hari ini, setiap papan yang retak dan setiap tiang yang menghalangi seakan menjadi pengingat bahwa kehidupan mereka berjalan di atas jembatan yang rapuh.
Warga hanya berharap satu hal, perhatian dari pemerintah.
Sebuah jembatan yang kuat, yang tidak lagi membuat petani kesulitan mengangkut hasil kebun, tidak lagi membuat motor warga tergelincir, dan tidak lagi membuat mobil pedagang sayur jatuh saat mencoba melintas.
Sebab bagi mereka, jembatan itu bukan sekadar jalan.
Jembatan itu adalah harapan./guntur
