Februari 17, 2026

Lantai Dua Cagar Budaya Tangsi Belanda Ambruk, 17 Orang Jadi Korban

Siak, detikriau.id/ – Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda di Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, ambruk pada Sabtu (31/1/2026) pagi. Insiden yang terjadi sekitar pukul 09.00 WIB tersebut mengakibatkan 17 orang menjadi korban luka, mayoritas merupakan anak-anak yang tengah mengikuti kegiatan wisata edukasi.
Korban merupakan rombongan siswa SD IT Baitul Ridho Lubuk Dalam yang saat kejadian berada di lantai dua bangunan bersejarah itu. Lantai dua dilaporkan runtuh secara mendadak ketika pemandu wisata sedang memberikan penjelasan, sehingga para peserta terjatuh dan tertimpa material bangunan.
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, dari total 17 korban terdampak, sebanyak 10 orang dirujuk ke RSUD Tengku Rafian Siak untuk mendapatkan perawatan medis, sementara 7 orang lainnya menjalani observasi di Puskesmas Mempura dan telah dipulangkan.
Dari jumlah tersebut, 15 korban merupakan anak-anak, 1 orang guru pendamping, dan 1 orang pemandu wisata setempat.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan 1 korban mengalami luka berat, 6 korban luka sedang, dan 10 korban luka ringan. Hingga laporan ini disusun, tidak terdapat korban meninggal dunia. Satu korban diketahui harus menjalani rujukan lanjutan ke rumah sakit di Pekanbaru untuk penanganan medis lebih intensif.
Penanganan darurat dilakukan oleh Puskesmas Mempura dengan melaksanakan triase di lokasi kejadian, pemberian pertolongan medis awal, serta evakuasi korban menggunakan ambulans melalui Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) Kabupaten Siak.
Begitu menerima laporan kejadian, Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli langsung turun tangan dengan mengunjungi RSUD Tengku Rafian Siak guna memastikan kondisi para korban.
“Saya pastikan seluruh korban ambruknya lantai dua Tangsi Belanda mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik,” ujar Afni.
Bupati Siak juga menyampaikan keprihatinannya atas insiden yang terjadi di salah satu objek wisata sejarah di daerahnya.
“Saya sangat prihatin dengan kondisi anak-anak kita yang sedang kunjungan belajar ke Cagar Budaya Tangsi Belanda. Diharapkan ini menjadi evaluasi bersama, jangan sampai peristiwa ini mengurangi semangat anak-anak untuk mengenal sejarah,” kata Afni.
Ia menjelaskan, setelah memastikan kondisi korban di rumah sakit, dirinya juga meninjau langsung lokasi kejadian. Dari hasil pendataan, diketahui 10 korban masih menjalani perawatan, 7 korban telah dipulangkan, dan 1 korban dirujuk ke Pekanbaru.
Atas peristiwa tersebut, Bupati Siak memutuskan untuk menutup sementara seluruh cagar budaya dan museum di Kabupaten Siak yang memiliki bangunan dua lantai.
“Untuk sementara seluruh lokasi wisata cagar budaya dan museum yang memiliki lantai dua kita tutup, mengingat usia bangunan yang sudah mencapai satu hingga dua abad,” tegasnya.
Terkait tindak lanjut, Afni mengaku telah berkomunikasi dengan Anggota DPR RI Karmila Sari untuk diteruskan ke Kementerian Kebudayaan RI.
“Beliau langsung menyampaikan kepada Menteri Kebudayaan Bapak Fadli Zon agar memberikan atensi dan melihat langsung kondisi cagar budaya serta museum di Kabupaten Siak yang memerlukan perhatian serius,” ujarnya.
Afni menegaskan, pelestarian bangunan bersejarah di Kabupaten Siak merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah daerah.
“Ini peninggalan kerajaan, peninggalan sejarah dan kebudayaan. Kami sangat berharap perhatian Pemerintah Pusat agar bangunan bersejarah ini bisa diselamatkan,” pungkasnya.
Kronologi Kejadian
Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar menjelaskan, peristiwa bermula saat rombongan yang terdiri dari 55 murid dan 12 guru tiba di lokasi sekitar pukul 08.49 WIB. Didampingi pemandu wisata, rombongan berkeliling area bangunan sebelum naik ke lantai dua.
Sekitar pukul 09.45 WIB, lantai dua yang terbuat dari papan kayu tua diduga tidak mampu menahan beban rombongan yang berkumpul di satu titik.
“Akibatnya, konstruksi lantai jebol dan para korban jatuh dari ketinggian kurang lebih empat meter ke lantai dasar bangunan,” kata Sepuh.
Pasca-kejadian, aparat kepolisian segera mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi untuk kepentingan olah tempat kejadian perkara dan pendataan saksi.
“Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan mematuhi rambu keselamatan saat berkunjung ke situs-situs bersejarah yang memiliki kerentanan struktur bangunan,” ujarnya.
Tentang Cagar Budaya Tangsi Belanda
Tangsi Belanda merupakan bangunan peninggalan kolonial yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan dahulu digunakan sebagai barak atau tempat tinggal tentara kolonial. Bangunan ini menjadi bagian penting dari kawasan sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya karena nilai sejarah, arsitektur, serta perannya dalam perjalanan sejarah daerah.
Dengan usia bangunan yang telah melampaui satu abad, struktur Tangsi Belanda memiliki keterbatasan kekuatan, khususnya pada bagian konstruksi kayu. Kondisi tersebut menuntut perawatan berkala, pembatasan aktivitas pengunjung, serta pengawasan ketat demi menjaga keselamatan sekaligus kelestarian warisan budaya./red