Sungai Anak Serka, Antara Penghidupan dan Limbah yang Diduga Mencemari
Inhil, detikriau.id – Sungai Anak Serka sejak lama menjadi bagian dari denyut kehidupan warga. Airnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara alirannya menjadi penopang aktivitas masyarakat di sekitarnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi sungai ini dirasakan warga mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Pendangkalan mulai terlihat di sejumlah titik. Alur sungai yang dahulu dalam, kini perlahan meninggi oleh endapan. Warga menduga, perubahan ini tidak terlepas dari aktivitas kilang-kilang sagu yang beroperasi di sepanjang sungai.
“Kalau airnya saja yang mengalir ke sungai, itu tidak masalah,” ujar seorang warga setempat. “Yang kami khawatirkan itu limbahnya, serbuk sagu.”
Menurut penuturan warga, aktivitas pengolahan sagu berlangsung hampir tanpa henti, siang dan malam. Bersamaan dengan itu, limbah sagu diduga ikut mengalir ke Sungai Anak Serka dalam jumlah besar.
“Bukan sedikit yang turun ke sungai,” katanya. “Bisa puluhan sampai ratusan ton per hari.”
Endapan limbah tersebut, menurut warga, perlahan mengangkat dasar sungai dan menyebabkan pendangkalan. Kondisi ini tidak hanya mengubah bentang alam sungai, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Sekarang sungai makin kecil,” ujar warga lainnya. “Kami yang tinggal di sini paling tahu perubahannya.”
Padahal, dalam kerangka regulasi nasional, pengelolaan limbah industri telah diatur agar tidak menimbulkan pencemaran. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menegaskan kewajiban setiap pelaku usaha untuk mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Ketentuan tersebut dipertegas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, yang mengatur bahwa limbah hasil kegiatan usaha seharusnya dikelola terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan, termasuk badan sungai.
Warga menilai, secara teknis persoalan limbah sagu sebenarnya masih bisa dikelola dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
“Pendapat saya, limbah itu bisa dibuatkan bak penampungan,” ujar seorang warga. “Limbahnya ditahan di situ, airnya saja yang dialirkan. Sungai tidak dangkal, usaha juga tetap jalan.”
Namun hingga kini, warga menyebut sebagian besar usaha sagu di wilayah tersebut masih membuang limbahnya langsung ke sungai, baik berupa air maupun limbah padat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan lingkungan di tingkat lapangan.
Pendangkalan Sungai Anak Serka menjadi sinyal bahwa pertumbuhan usaha perlu diiringi dengan pengelolaan lingkungan yang lebih serius. Tanpa penataan dan pengawasan yang konsisten, sungai berpotensi terus menanggung beban aktivitas industri.
Sungai Anak Serga hari ini masih mengalir. Namun keberlanjutan alirannya bukan hanya soal waktu, melainkan juga tentang bagaimana regulasi lingkungan diterapkan—bukan sekadar tertulis, tetapi benar-benar terasa hingga ke tepian sungai./Guntur Alam
