mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
5 Februari 2026

Jalan Merdeka yang Tak Lagi Merdeka

0
bc4e446c-1161-46a5-8e6a-a29875402bf4

foto: Guntur Alam

Detikriau.id – Pagi belum sepenuhnya hangat ketika deru sepeda motor dan langkah kaki pelajar memecah sunyi di Jalan Merdeka Parit 4 Kelurahan Teluk Pinang. Jalan tanah itu tampak basah, berlubang, dan tergenang air di banyak titik. Di sinilah setiap hari anak-anak sekolah, guru, dan warga mempertaruhkan keselamatan demi sampai ke tujuan.

Jalan Merdeka bukan sekadar jalur penghubung antarparit. Ia adalah urat nadi bagi ratusan warga, termasuk siswa SMA Negeri 1 Gaung Anak Serka (GAS). Namun, namanya seolah bertolak belakang dengan kondisinya: rusak parah dan nyaris tak tersentuh perbaikan selama bertahun-tahun.

Riska Marta Serla, seorang mahasiswi yang juga mengajar, menjadi salah satu saksi keseharian jalan ini. Ia tinggal di Parit 2 dan setiap hari melintasi Jalan Merdeka menuju tempat mengajarnya di Tanjung Harapan serta kampus Universitas Terbuka di Tembilahan.

“Kalau hujan, jalan ini jadi licin dan sering tergenang air,” ujarnya lirih.

Menurut Riska, kerusakan jalan sudah berlangsung lama. Meski kecelakaan jarang terjadi, bukan karena jalannya aman, melainkan karena warga sudah terbiasa dan ekstra hati-hati.

“Harapan saya sederhana, semoga jalan ini segera diperbaiki. Supaya anak sekolah dan masyarakat yang bekerja bisa lebih aman,” katanya.

foto: detikriau.id/Guntur Alam

Harapan serupa datang dari bangku sekolah. Depi Witriyadi, siswa SMA Negeri 1 Gaung Anak Serka, telah dua tahun menempuh jalan rusak ini dari rumahnya di Parit 9 Teluk Pinang menuju sekolah di Parit 4.

“Sejak saya sekolah di sini, jalannya sudah rusak,” kata Depi.

Bahkan sebelum dirinya, kakaknya yang lebih dulu bersekolah di SMA tersebut juga melewati jalan dengan kondisi yang sama.

Dampaknya nyata. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi lintasan licin penuh genangan. Kecelakaan pun bukan hal asing.

“Sering jatuh. Kecelakaan juga ada, terutama di depan sana, arah masuk ke sekolah dan di bawa ke puskesmas,” ungkapnya.

Tak jarang, kondisi ini memaksa Depi dan teman-temannya absen sekolah.

“Pernah tidak bisa masuk sekolah karena hujan dan jalannya rusak,” ujarnya.

Di Parit 5, kerusakan jalan tak kalah memprihatinkan. Ketua RW 7 Kelurahan Teluk Pinang, Alghoyalaini, menyebut Jalan Merdeka dari Parit 5 hingga Parit 2 sudah rusak parah sekitar lima tahun terakhir.

“Dalam sehari bisa ratusan orang melintasinya. Anak sekolah, warga ke kebun, semuanya lewat jalan ini,” jelasnya.

Saat musim hujan dan air pasang, kondisi semakin parah.

“Di Parit 4, air bisa sampai 40 sampai 50 sentimeter. Jalan terendam, licin, sangat menghambat,” katanya.

Akibatnya, pelajar dari wilayah Gaung, Kantang, hingga Milon sering terlambat ke sekolah. Bukan karena malas, tetapi karena alam dan jalan yang tak bersahabat.

Sebagai perwakilan warga, Alghoyalaini mengaku sudah berkali-kali mengusulkan perbaikan melalui musrenbang, meski jalan tersebut berstatus jalan provinsi.

“Sudah sering kami usulkan, bahkan kemarin juga saya sampaikan langsung ke salah seorang anggota DPRD Inhil dapil setempat. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya.

Jalan Merdeka hari ini masih menjadi saksi perjuangan warga dan pelajar. Setiap lubang, genangan, dan lumpur menyimpan cerita tentang harapan yang belum terjawab. Di jalan inilah anak-anak berangkat menjemput masa depan—dengan risiko jatuh, terlambat, bahkan tak sampai sekolah.

Warga hanya berharap satu hal: agar Jalan Merdeka benar-benar kembali memerdekakan langkah mereka./Guntur Alam

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!