mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
19 Juli 2024

Catat! Salat Idul Adha di PP Muhammadiyah 17 Juni, Bukan Besok

0

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti (Tangkapan Layar YouTube Muhammadiyah Channel)

Jakarta – Masjid Agung Al-Azhar Jakarta Selatan akan menggelar salat Idul Adha besok. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah akan melaksanakan salat Idul Adha Senin, 17 Juni.
“Tanggal 17 Juni (salat Idul Adha),” ujar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, saat dimintai konfirmasi, Sabtu (15/6/2024).

Dilansir dari laman Muhammadiyah, Idul Adha 2024 pada 10 Zulhijah 1445 H menurut Muhammadiyah jatuh pada Senin, 17 Juni 2024. Hal ini berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2024 tentang Penetapan Hasil Hisab, Syawal, dan Zulhijah 1445 H yang dikeluarkan pada 12 Januari 2024 lalu.

Ijtimak atau momen konjungsi bulan, tercatat terjadi pada Kamis, 6 Juni 2024 yang bertepatan dengan tanggal 29 Zulkaidah 1445 H, tepat pukul 19:39:58 WIB.

Namun, pada saat matahari terbenam di Yogyakarta, bulan masih berada di bawah ufuk (-03° 32` 39″) sehingga hilal belum tampak. Untuk itu, umur bulan Zulkaidah 1445 H disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari sehingga awal Zuhijah 1445 H jatuh pada 8 Juni 2024.

Berdasarkan penetapan Muhammadiyah, berikut konversi tanggal penting Hijriah dalam kalender Masehi:

1 Zulhijah 1445 H bertepatan pada Sabtu, 8 Juni 2024

9 Zulhijah 1445 H bertepatan pada Ahad, 16 Juni 2024

10 Zulhijah 1445 H bertepatan pada Senin, 17 Juni 2024

Penetapan awal bulan Hijriah menurut Muhammadiyah ini menggunakan metode hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal. Hisab hakiki adalah metode hisab yang mengacu pada gerak benda langit, khususnya matahari dan bulan.

Gerak dan posisi bulan dalam metode ini dihitung untuk mendapatkan gerak dan posisi bulan yang sebenarnya dan setepat-tepatnya sebagaimana adanya. Adapun wujudul hilal adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pada saat matahari terbenam dan bulan belum terbenam.

Dengan kata lain, bulan terbenam terlambat dari terbenamnya matahari berapa pun selisih waktunya. Dengan istilah geometrik, pada saat matahari terbenam posisi bulan masih di atas ufuk berapa pun tingginya.

Kriteria penetapan awal bulan baru dengan prinsip hisab hakiki wujudul hilal ini didasarkan dari tiga kriteria yang harus dipenuhi, yaitu sudah terjadi ijtimak (konjungsi) antara bulan dan matahari, ijtimak terjadi sebelum terbenam matahari, dan ketika matahari terbenam bulan belum terbenam, atau bulan masih berada di atas ufuk.

Sebaliknya apabila salah satu saja dari tiga kriteria tersebut tidak terpenuhi, saat matahari terbenam sampai esok harinya belum masuk bulan baru kalender Hijriah. Bulan baru akan dimulai pada saat terbenam matahari berikutnya, setelah ketiga kriteria tersebut terpenuhi.

sumber: detikcom

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!