mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
1 Oktober 2022

Pembangunan gedung MPP juga dikhawatirkan mangkrak. Minggu ke-20, bobot pekerjaan baru capai 19,36 persen

Inhil, detikriau.id – Setelah dua paket proyek bernilai miliaran di Kecamatan Reteh, (pembangunan jalan ruas 6 Pulau Kijang – Sanglar dan Jembatan Parit 16), pekerjaan pembangunan Gedung Kantor Mall Pelayanan Publik (MPP) Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir di Kecamatan Tembilahan juga di khawatirkan tidak akan tuntas.

Sumber detikriau.id memprediksi, pembangunan gedung  dengan nilai kontrak Rp12 miliar lebih itu hingga batas akhir kontrak 28 Desember 2022, progres maksimal yang bisa dicapai hanya dikisaran 70an persen.

“Hingga batas akhir pengerjaan (28 Desember 2022), progres maksimal saya prediksi hanya dikisaran 70an persen, inipun dengan catatan jika selama sisa waktu tidak ada hambatan lainnya,” Sebut sumber yang meminta namanya tidak dipublikasikan ini kepada detikriau.id, ahad (11/9/2022)

Foto; detikriau.id

Dengan kondisi saat ini ia berharap agar pemerintah daerah melalui Dinas terkait untuk segera menyikapi.

“Dinas terkait harus segera menyikapi dengan serius untuk menggesa pengerjaan dilapangan agar dana APBD yang sudah dianggarkan terserap tepat waktu dan memberi manfaat maksimal,” Pesannya

Terkait hal ini, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Dinas PU dan Cipta karya  kabupaten Inhil, Arif Gunawan dikonfirmasi detikriau.id mengakui bahwa pekerjaan gedung MPP hingga minggu ke-20 terjadi deviasi, minus 22,6 persen dari target pencapaian  41,96 persen. Saat ini realisasi pekerjaan baru berada di bobot 19,36 persen.

“iya, diminggu ke 20, bobot pekerjaan baru 19,36% dari target 41,96%, artinya deviasi minus 22,6%” Sebut Arif saat dikonfirmasi diruang kerjanya, senin (12/9/22)

Ditambah Arif, dengan kondisi tersebut, pihaknya sudah menerapkan Show Cause Meeting (SCM) 1, kesepakatannya sampai minggu ke24 atau akhir September, “Namun satu minggu lagi kita lihat jika capaian target bobotnya tidak terkejar, kita masuk SCM 2”

Untuk pekerjaan yang didanai APBD Inhil ini, kontraktor pelaksana, masih menurut Arif, optimis akan mampu menuntaskan pekerjaan sesuai batas tenggat waktu.

“Menurut kontraktor hambatan mereka disebabkan pasokan material besi , tapi mereka tekankan akan kejar target dengan memaksimalkan pekerjaan, kerja siang dan malam. Mereka optimis selesai.” yakinkan arif

Arif juga menyebutkan bahwa untuk pekerjaan ini kontraktor sudah mencairkan uang muka dan saat ini mengajukan pencairan tahap pertama.

“Sekarang mereka ajukan pencairan tahap pertama di bobot 19,36%. Sistem pencairan sistem mc, artinya berapapun bobotnya mereka bisa mengajukan pencairan. Sekali lagi mudah-mudahan pekerjaan bisa tuntas dan tidak ada perpanjangan waktu.” Akhirinya.

Mengutip badilag.mahkamahagung.go.id, Show Cause Meeting (SCM) secara definitif diartikan sebagai rapat pembuktian keterlambatan pekerjaan pada pekerjaan konstruksi yang bisa terjadi karena kendala dari segi materi/bahan, kurangnya pekerja dilapangan dan kondisi alam yang secara umum keterlambatan pekerjaan tersebut terjadi akibat kelalaian Penyedia.

SCM diadakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dikarenakan adanya kondisi kontrak kerja yang dinilai kritis dan berpotensi waktu pelaksanaan tidak sesuai dengan jadwal penyelesaian pekerjaan yang telah ditetapkan./red

 

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: