mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
13 Agustus 2022

Alasan Elon Musk Batal Beli Twitter: Banyak Akun Palsu

Bos Tesla Elon Musk tengah berupaya membatalkan kesepakatannya membeli Twitter seharga US$44 miliar atau sekitar Rp658 triliun dengan dalih perusahaan berlogo burung biru ini melanggar perjanjian terkait akun bot.
Musk menilai Twitter gagal memberikan informasi tentang akun bot atau akun palsu di platformnya.

“Tn. Musk mengakhiri Perjanjian Penggabungan karena Twitter melakukan pelanggaran material terhadap beberapa ketentuan Perjanjian itu, dan tampaknya membuat pernyataan palsu dan menyesatkan yang diandalkan oleh Musk saat memasuki Perjanjian Penggabungan, dan kemungkinan akan mengalami Efek Merugikan Material Perusahaan,” tulis pengacara Musk dalam sebuah surat kepada Chief Legal Officer Twitter, Vijaya Gadde, dikutip dari TechCrunch, Sabtu (9/7).

Musk menuduh Twitter menyesatkan para investor dan pengguna tentang jumlah akun palsu di platformnya. Mereka sejak lama menyebut akun palsu di platformnya berada di bawah 5 persen.

“Twitter telah berulang kali membuat pernyataan dalam pengajuan tersebut mengenai bagian mDAU (monetizable daily active users/pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi)-nya yang palsu atau spam,” lanjut pernyataan tim hukum itu.

Pembatalan pembelian ini secara langsung berimbas pada harga saham Twitter. Harga saham Twitter merosot 6 persen dalam perdagangan yang diperpanjang pada hari yang sama.

Selain informasi soal akun bot, ada beberapa alasan lain Musk membatalkan pembelian Twitter, seperti tak dapat akses ke pusat data dan data pengguna tak murni.

Pihak Musk mengklaim Twitter tidak memberikan akses yang cukup ke pusat data untuk melakukan analisisnya sendiri. Padahal, Twitter telah memberinya akses ke ‘firehose’, pusat data mentah media sosial itu.

Sementara terkait data pengguna, surat dari tim kuasa hukum Musk juga menyatakan Twitter memberi tahu Musk dalam panggilan telepon yang tidak dilaporkan bahwa perusahaan memasukkan akun yang ditangguhkan dalam perhitungan pengguna aktif hariannya yang dapat dimonetisasi (mDAU).

“Pengakuan Twitter bahwa mereka berhenti menghitung pengguna palsu atau spam di mDAU-nya ketika menentukan pengguna tersebut palsu tampaknya adalah hal yang salah,” tulis pernyataan tersebut.

“Sebaliknya, kami memahami, berdasarkan representasi Twitter selama panggilan telepon 30 Juni 2022 dengan kami, bahwa Twitter menyertakan akun yang telah ditangguhkan – dan dengan demikian diketahui palsu atau spam,” lanjutnya.

Selain alasan-alasan tersebut, analis dari Hargreaves Lansdown, Susannah Streeter, menganggap ancaman pembatalan kesepakatan yang berulangkali dilakukan Musk adalah upayanya untuk menurunkan harga pembelian Twitter. Pasalnya, estimasi angka bot 5 persen sudah ada sejak 2013.

“Metrik 5 persen sudah keluar sejak lama. Dia jelas sudah melihatnya. Jadi, ini mungkin strategi untuk menurunkan harga,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

sumber: CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: