mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
6 Oktober 2022

Perusahaan Wilmar Tutup, Petani sawit Berteriak Jual Hasil Panen

panen buah sawit./Foto ilustrasi: Internet

“SPI mendesak agar pemerintah mengambil tindakan hukum yang tegas kepada pabrik kelapa sawit/perusahaan dari tingkat trader, grower hingga producer yang ikut andil dalam menentukan harga sepihak”

detikriau.id –  Petani sawit yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), mulai berteriak kesulitan menjual hasil panen sawitnya.

Sebab, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit terus menurun sejak 28 April 2022 saat pemerintah melarang ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya.

Produksi kelapa sawit anjlok, petani pun kesulitan untuk mengirim hasil panennya ke pabrikan. Kondisi ini diperparah dengan ditutupnya salah satu pabrik sawit, yakni anak perusahaan Wilmar Group.

Dalam keterangan resminya, SPI menceritakan kesulitan yang dihadapi petani kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau karena anak perusahaan Wilmar, PT Citra, yang memiliki tiga pabrik kelapa sawit (PKS), sampai saat ini masih menutup pabriknya.

“Sehingga berpengaruh terhadap penurunan harga TBS kelapa sawit yang cukup tinggi. Di tingkat petani, harga TBS kelapa sawit berkisar Rp. 1.600-1.750 per kilo gram,” bunyi pernyataan sikap bersama atas nama Ketua Umum SPI Henry Saragih dan Sekretaris Jenderal SPKS Mansuetus Darto, belum lama ini.

Mereka menduga bahwa penetapan harga TBS kelapa sawit saat ini tidak lagi merujuk pada harga internasional yang sebelumnya berlaku, namun merujuk pada harga nasional. Dugaan ini tidak lepas dari fakta sebelumnya bahwa pabrik kelapa sawit tidak mematuhi harga yang ditetapkan oleh pemerintah.

Hingga saat ini petani sawit di seluruh wilayah sentra sawit di Indonesia tengah menghadapi penurunan harga TBS kelapa sawit yang ditetapkan pemerintah provinsi setelah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 22/2022 disahkan.

Sebagai contoh, penetapan harga TBS kelapa sawit Provinsi Riau untuk periode 11-18 Mei 2022, telah terjadi penurunan harga sebesar Rp 972,29 per kg menjadi Rp 2.947,58 per kg untuk sawit umur 10-20 tahun.

Padahal, sebelumnya pada periode 27 April-10 Mei 2022, harga TBS kelapa sawit umur 10-0 tahun di Riau ditetapkan Rp 3.919,87 per kg.

Penurunan harga TBS kelapa sawit di tingkat petani menjadi tanda tanya besar, dasar atau rumus apa yang digunakan untuk menetapkan harga TBS kelapa sawit saat ini.

“Apakah harga CPO dan kernel turun secara drastis? Karena jika dibandingkan dengan Malaysia, harga TBS di sana tidak turun, masih di harga sekitar Rp 5.000 per kg,” jelas SPI.

SPI mendesak agar pemerintah mengambil tindakan hukum yang tegas kepada pabrik kelapa sawit/perusahaan dari tingkat trader, grower hingga producer yang ikut andil dalam menentukan harga sepihak.

“Pemerintah segera mengawasi dan mengambil tindakan hukum yang tegas kepada pabrik kelapa sawit/perusahaan dari tingkat trader, grower hingga producer yang ikut andil dalam menentukan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit secara sepihak di lapangan, yang tidak berdasar pada harga penetapan pemerintah serta berbagai praktik menyimpang lainnya yang merugikan petani sawit,” kata SPI melanjutkan.

sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: