mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
26 Januari 2022

Bitcoin Cs Rebound, Hanya Terra yang Masih Loyo!

Foto: Bitcoin. (Dok: Freepik)

Jakarta – Harga Bitcoin, Ethereum dan kripto berkapitalisasi pasar besar (big cap) berbalik arah ke zona hijau pada perdagangan Sabtu (8/1/2022) petang waktu Indonesia, karena investor mulai memburu kembali aset kripto, meskipun mereka masuk cenderung bertahap.

Melansir data dari CoinMarketCap per pukul 15:15 WIB, hanya koin digital (token) Terra dan satu kripto stablecoin yakni USD Coin yang masih diperdagangkan di zona merah pada hari ini.

Terra melemah 1,94% ke level harga US$ 670,45/koin atau setara dengan Rp 968.245/koin (asumsi kurs Rp 14.355/US$).

Sementara sisanya berhasil rebound ke zona hijau pada hari ini. Bitcoin menguat 0,81% ke level US$ 42.075,1/koin atau setara dengan Rp 603.988.061/koin, Ethereum bertambah 0,48% ke level US$ 3.224,8/koin (Rp 46.292.004/koin), Solana melonjak 4,25% ke US$ 145,46/koin (Rp 2.088.078/koin), dan Cardano melesat 2,48% ke US$ 1,24/koin (Rp 17.800/koin).

Berikut pergerakan 10 kripto besar berdasarkan kapitalisasi pasarnya pada hari ini.

Kripto

Meskipun pasar kripto cenderung positif pada hari ini, tetapi untuk Bitcoin masih cenderung sideways dan diperdagangkan di kisaran level US$ 42.000 pada hari ini.

Analis memperkirakan harga Bitcoin masih akan bergerak sideways dalam beberapa hari mendatang, meskipun Bitcoin masih rentan terkoreksi jika level support-nya bisa ditembus.

Pengurangan leverage di pasar berjangka Bitcoin dan Ethereum menandakan bahwa kondisi pasar cenderung lebih sehat. Biasanya, ada kemungkinan volatilitas penurunan tambahan yang lebih rendah ketika para trader mengurangi posisi mereka di pasar kripto.

“Sepertinya beberapa trader mencoba berspekulasi kembali dalam pasar kripto ini,” kata Genevieve Yeoh, analis riset di Delphi Digital, dikutip dari CoinDesk.

Beberapa hari sebelumnya, pasar kripto juga ikut terkoreksi bersama dengan pasar saham global, karena investor merespons negatif dari potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS).

Dalam rapat The Fed edisi Desember 2021, Ketua The Fed, Jerome ‘Jay’ Powell dan para koleganya menyebut pasar tenaga kerja sudah sangat ketat dan inflasi terus meninggi. Hal ini membuat The Fed sepertinya harus menaikkan suku bunga acuan lebih cepat.

“Para peserta rapat secara umum mencatat bahwa tidak bisa menghindari kenaikan suku bunga acuan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa peserta rapat juga mencatat sudah saatnya mengurangi beban neraca (balance sheet) setelah kenaikan Federal Funds Rate,” sebut notula itu.

Pasar pun langsung bereaksi. Mengutip CME FedWatch, kemungkinan kenaikan suku bunga acuan dalam rapat Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) edisi Maret 2022 mencapai 64,1%.

“Indikasi The Fed semakin khawatir dengan inflasi akan menciptakan pandangan bahwa mereka akan melakukan pengetatan kebijakan secara agresif pada 2022. Lebih hawkish dari dugaan,” kata David Carter, Chief Investment Officer di Lenox Wealth Adivisors yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/1/2022).

Kenaikan suku bunga acuan membuat investor cenderung melirik ke aset berpendapatan tetap seperti obligasi pemerintah, karena imbal hasilnya (yield) akan ikut terkerek dan investor cenderung meninggalkan aset berisiko seperti kripto dan saham.

Pada pekan ini pula, yield obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor 10 tahun yang menjadi acuan obligasi pemerintah Negeri Paman Sam sempat melonjak ke level 1,75%, yakni pada Kamis waktu setempat.

Namun pada perdagangan Jumat waktu AS, yield Treasury bertenor 10 tahun kembali naik dan kini berada di level 1,76%.

CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: