mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
18 September 2021

Ucapan Hari Raya Baha’i dari Menag Yaqut Bikin Heboh

“Anwar Abbas : Baha’i tidak masuk dalam daftar agama yang diakui di Indonesia”

Detikriau.id – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan ucapan hari raya Naw-Ruz 178 EB bagi penganut Baha’i di Indonesia. Apa yang dilakukan Gus Yaqut kini menjadi sorotan banyak pihak.

Ucapan selamat dari Yaqut Cholil Qoumas itu diketahui dari video yang diunggah di akun YouTube Baha’i Indonesia pada 26 Maret 2021.

dilansir sindonews, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengatakan Baha’i tidak masuk dalam daftar agama yang diakui di Indonesia.

Dia menuturkan, Baha’i adalah sebuah agama yang mengakui para nabi dan rasul yang sudah dikenal dan diimani oleh orang Islam.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengatakan Bahai tidak masuk dalam daftar agama yang diakui oleh negara. FOTO/DOK.SINDOnews

“Tetapi dia (Baha’i, red) juga mengakui adanya nabi-nabi di luar yang diyakini oleh umat Islam,” kata Anwar Abbas kepada SINDOnews, Kamis (29/7/2021).

Oleh karena itu, kata dia, ajaran agama Baha’i dalam hal-hal tertentu tentu ada yang sama dan juga ada yang berbeda dengan ajaran agama Islam.

Baca juga: Konfirmasi Covid 43.479. Riau diperingkat 5

“Tetapi meskipun dia sebuah agama, dia tidak masuk dalam daftar agama yang diakui oleh negara. Oleh karena itu sikap dan perlakuan pemerintah terhadap agama yang diakui di negeri ini dan yang statusnya tidak diakui tentu saja tidaklah sama,” katanya.

 

Bukhori DPR: Menag Jangan Bikin Gaduh

Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf menyoroti sikap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menyampaikan ucapan hari raya kepada penganut Baha’i di Indonesia.

dilansir viva.co.id, Bukhori mengingatkan Gus Yaqut agar tidak membuat gaduh masyarakat dengan melontarkan pernyataan yang kontroversial.

“Saya mengimbau kepada Menteri Agama supaya menghindari perbuatan yang berpotensi memicu polemik sehingga mengusik fokus Kementerian Agama dalam menjalankan tupoksinya selama penanganan pandemi,” kata Bukhori, kepada wartawan, Kamis 29 Juli 2021

Politisi PKS ini mengatakan, tidak ada keperluan yang berarti dengan memberikan ucapan selamat hari raya kepada penganut Baha’i. Selain itu, dirinya juga khawatir ucapan Menteri Agama akan mengusik sensitivitas keagamaan umat beragama yang telah diakui secara resmi oleh negara.

“Tidak ada urgensinya. Sementara, patut disayangkan apa yang disampaikan oleh Menteri Agama dilakukan atas nama negara, sehingga menimbulkan kesan adanya pengakuan secara resmi oleh negara terhadap eksistensi agama Baha’i. Padahal sebaliknya, konstitusi kita tidak mengakuinya sebagai agama resmi. Kontradiksi ini yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan dan sentimen di masyarakat,” ujar Bukhori.

Dalam Undang-Undang No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama disebutkan dalam penjelasan di Pasal 1 bahwa terdapat enam agama yang dipeluk penduduk Indonesia. Agama itu yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konfusius.

Lebih lanjut, Bukhori juga mengatakan, dirinya bisa memahami dan mengapresiasi semangat inklusif dan pesan toleransi yang hendak disyiarkan oleh Menteri Agama kepada seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi, lanjutnya, pemerintah semestinya menggunakan narasi yang cermat, proporsional, dan bijaksana.

“Apa yang dilakukan oleh pemerintah, kami lihat, telah melampaui koridor atau batasan hukum yang jelas sehingga perlu kami ingatkan. Namun pada intinya, PKS mendukung komitmen negara untuk memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama sepanjang dilakukan melalui cara-cara yang proporsional, khususnya cara-cara yang tidak menyalahi keimanan masing-masing penganut agama,” ujarnya

 

Apa Itu Hari Raya Naw Ruz yang Diucapkan Menag

Menurut situs web Baha’i Center of Washtenaw County, dilansir Tirto.id, dalam ajaran agama Baha’i, hari raya Naw Ruz diperingati pada 21 Maret setiap tahunnya.

Naw Ruz berasal dari perayaan Zoroaster di Iran kuno dan hingga hari ini, dirayakan sebagai festival budaya oleh orang Iran dari semua latar belakang agama.

Peringatan Naw Ruz juga telah menyebar ke banyak bagian dunia lainnya, dan dirayakan sebagai hari libur budaya di India, Afghanistan, Tajikistan, Kurdistan Irak, Azerbaijan, Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgistan.

Naw-Ruz berarti “Hari Baru”, dirayakan pada hari pertama musim semi. Ini adalah saat kegembiraan dan perayaan, karena kegelapan musim dingin berakhir dan cahaya muncul kembali, bersama kehangatan dan keindahan musim semi.

Bagi agama Baha’i, Naw Ruz juga memiliki makna spiritual yang dalam. Naw Ruz menandai akhir dari 19 hari Puasa Baha’i, yang merupakan periode refleksi dan penyegaran rohani mendalam bagi Baha’i.

Naw Ruz ditahbiskan oleh Baha’u’llah (Baha’ Allah) sebagai perayaan “musim semi spiritual” umat manusia: dispensasi Baha’i.

Dispensasi Baha’i dimulai dengan Deklarasi Bab, yang seluruh misinya adalah untuk mempersiapkan dunia bagi seorang Guru Ilahi dengan Pesan yang dianggapnya lebih besar dari pesan-Nya sendiri: Baha’u’llah.

Wahyu Baha’u’llah – saat manusia menerima Ajaran Ilahi melalui Utusan Tuhan -, dalam ajaran Baha’i, disamakan dengan awal musim semi.

 

Ajaran Agama Baha’i

Tulisan dan kata-kata yang diucapkan dari Bab, Baha’u’llah, dan Abd al-Baha menjadi dasar dari iman agama Baha’i. Keanggotaan dalam komunitas Baha’i terbuka bagi semua orang yang mengaku beriman kepada Baha’u’llah dan menerima ajarannya, demikian dilansir Britannica.

Tidak ada upacara inisiasi, tidak ada sakramen, dan tidak ada pemimpin ritual. Namun, setiap Baha’i berada di bawah kewajiban spiritual untuk berdoa setiap hari; menjauhkan diri sepenuhnya dari narkotika, alkohol, atau zat lain yang mempengaruhi pikiran; mempraktikkan monogami; mendapatkan persetujuan orang tua untuk menikah; dan menghadiri Pesta Sembilan Belas Hari pada hari pertama setiap bulan dalam penanggalan Baha.

Jika mampu, mereka yang berusia antara 15 dan 70 tahun bisa berpuasa 19 hari dalam setahun, tidak makan atau minum dari matahari terbit hingga terbenam.

Pesta Sembilan Belas Hari, awalnya dilembagakan oleh Bab, menyatukan Baha’i di sebuah tempat tertentu untuk berdoa, membaca kitab suci, diskusi tentang kegiatan komunitas, dan menikmati kebersamaan satu sama lain.

Pesta dirancang untuk memastikan partisipasi universal dalam komunitas dan pengembangan semangat persaudaraan dan persekutuan.

Pada awal abad ke-21 ada sembilan rumah ibadah Baha’i: di Australia, Kamboja, Chili, Jerman, India, Panama, Samoa, Amerika Serikat, dan Uganda.

Di kuil-kuil tidak ada khotbah; mereka biasanya melakukan pembacaan kitab suci semua agama.

Baha’i menggunakan kalender, yang ditetapkan oleh Bab dan dikonfirmasi oleh Baha’u’llah , di mana tahun dibagi menjadi 19 bulan yang masing-masing terdiri dari 19 hari, dengan penambahan 4 hari kabisat (5 di tahun kabisat).

Tahun dimulai pada hari pertama musim semi, 21 Maret (Nawa Ruz), yang merupakan salah satu dari beberapa hari suci dalam kalender Baha’i./dro

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: