mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
28 Juli 2021

Udara di RI Lebih Dingin, Ini Penjelasan BMKG

Jakarta – Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) membeberkan penyebab udara lebih dingin, padahal saat ini sebagian wilayah sudah masuk musim kemarau.

Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrim BMKG, Siswanto mengatakan pada akhir Juni, gangguan atmosfer pemicu pertumbuhan awan berupa gelombang ekuatorial tropis MJO terpantau aktif dan merambat dari Samudera Hindia bagian barat.

Lalu awan itu melewati wilayah benua maritim kontinen Indonesia, dan bergerak ke arah timur hingga pertengahan dasarian II Juli 2021.

“Sirkulasi angin monsun Australia dan propagasi MJO diperkirakan akan berdampak pada peningkatan potensi hujan di wilayah Indonesia dekat dengan ekuator dan wilayah bagian utaranya,” ujar Siswanto lewat keterangan tertulis, Selasa (6/7).

Lebih lanjut ia menjelaskan suhu permukaan laut Samudera Hindia bagian barat didominasi kondisi dingin hingga netral, sedangkan di bagian tengah dan timur memiliki suhu netral hingga hangat.

Indeks Dipole Mode Samudera Hindia (IOD) bulan Juni 2021 sebesar -0.46, yang menunjukkan kondisi IOD Negatif dan biasanya berdampak pada kondisi basah di wilayah Sumatera bagian barat.

BMKG memprakirakan fenomena El-Nino Southern Oscillation (ENSO) netral akan berlangsung setidaknya hingga Desember 2021. BMKG juga memperkirakan kondisi IOD akan kembali Netral pada Juli, dan akan berlangsung setidaknya hingga Desember 2021.

Siswanto mengatakan hingga dasarian III Juni 2021, sebanyak 63.16 persen dari jumlah zona musim (ZOM) di wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Baca juga: Geger Inti Bumi Miring di Laut RI

Namun begitu di sebagian wilayah memiliki curah hujan tinggi hingga sangat tinggi yakni >150 mm. Wilayah itu meliputi Pulau Belitung, Sulawesi Tenggara bagian timur, sebagian kecil Papua Barat bagian barat dan sebagian kecil Papua bagian tengah.

Seiring dengan perkembangan musim kemarau, kata Siswanto terdapat aliran massa udara pada lapisan atmosfer bagian bawah yang menunjukkan dominasi angin monsun Australia di wilayah bagian selatan ekuator.

Lebih lanjut ia memprediksi prakiraan cuaca 10 hari ke depan. Pada dasarian I Juli 2021 diprediksi masih didominasi angin timuran.

Terdapat wilayah yang diperkirakan mengalami hujan kategori tinggi, lebih dari 150mm. Wilayah itu di antaranya Sulawesi Tengah bagian timur, wilayah Papua Barat bagian tengah dan wilayah Papua bagian tengah.

Udara Lebih Dingin Bukan Akibat Fenomena Aphelion

Fenomena Aphelion yang terjadi Selasa (6/7), merupakan peristiwa astronomi saat Bumi berada di titik paling jauh dari Matahari. Saat fenomena terjadi, bumi berada sejauh 152.100.527 kilometer dari Matahari.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: