mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
28 Juli 2021

“Isu Miring” Gerobak Baznas, Baca Penjelasannya

Foto: Riau1.com

Tembilahan, detikriau.id – Program bantuan Gerobak Zakat Produktif BAZNAS Inhil  menimbulkan kritikan. Ada yang berpendapat, penerima manfaat dari dana zakat umat ini tidak sesuai dengan asnaf bahkan biaya produksi gerobak juga disebut tidak wajar.

Menurut salah seorang warga Tembilahan, setidaknya ia mendapati tiga penerima bantuan gerobak yang berdomisili di Tembilahan Hilir diyakininya tidak terkategorikan fakir dan miskin, namun justru ketiganya dipilih sebagai penerima bantuan.

“Setidaknya ada tiga penerima yang penilaian saya tidak masuk dalam kategori miskin apalagi fakir, namun mereka justru diberikan. Padahal masih banyak warga lainnya yang lebih wajar dan pantas untuk menerima,” Kritik warga Tembilahan, Tetes disampikan melalui telepun selular kepada detikriau.id

Tidak hanya sebatas kewajaran penerima, ia juga menyebutkan biaya produksi Rp 10 juta untuk setiap unit gerobak terlalu tinggi dan sangatlah tidak wajar.

Baca juga : Bupati Lepas 2700 Paket Premium Ramadhan Berkah 1442 H dari Baznas Inhil

“masak iya hanya untuk membuat gerobak dagangan seperti itu mencapai nilai 10 juta per unitnya, Baznas harus jelaskan hal ini secara terang dan terbuka. Saya nilai terlalu tinggi dan tidak wajar, ini uang zakat umat. ”kritiknya juga

Terkait hal ini, ketua BAZNAS Inhil, HM Yunus Hasby memastikan seluruh penerima telah diverifikasi dan memenuhi syarat yang ditentukan.

Dijelaskan pria yang akrab disapa Yunus ini, program gerobak baznas merupakan pilot project Baznas Inhil yang diawali dengan 15 unit gerobak bantuan. Untuk program ini, penerima dipilih secara mendiri oleh BAZNAS.

“Memang ada juga beberapa penerima berdasarkan usulan. Tapi tetap diverifikasi dan harus sesuai dengan kriteria yang disyaratkan,” Ujar Yunus mengawali penjelasan, sabtu (19/6)

Foto: Riau1.com

Pemberian zakat produktif seperti ini, dilanjut Yunus,  bertujuan akhir bagaimana mustahiq (yang berhak menerima zakat.red) kedepannya menjadi menjadi Muzakki (orang yang wajib membayar zakat).

Disamping harus masuk dalam delapan asnaf [fakir, miskin, amil, mualaf, riqab (hamba sahaya), gharim (orang yang terlilit utang), fisabilillah, dan ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan], penilaian lainnya diutamakan kepada karakter calon penerima.

“asnaf memang penilaian utama. Selanjutnya membaca karakter, artinya, mungkin tidak sipenerima bisa menjalankan usaha. Itu sebabnya dari delapan asnaf  yang punya talenta berdagang, akan masuk prioritas penerima gerobak Baznas, bukan hanya diutamakan kepada fakir dan miskin”

“Jadi sisi sasaran tetap asnaf yang delapan. Pedoman yang kita baca peraturan baznas”, Imbuhnya

Perihal biaya produksi gerobak baznas yang disebutkan Rp10 juta, Yunus tidak menampik, namun menurutnya, nilainya bukan 10 juta per unit tetapi Rp25 juta.

“Nilai program per unitnya Rp35 juta. Khusus bangunan gerobaknya Rp 25 juta, bukan 10 juta,” Akui Yunus

Dijelaskannya, awalnya, untuk setiap unit bangunan gerobak direncanakan senilai Rp13 juta.tapi setelah dilakukan kajian, dengan biaya tersebut, bahan yang dipergunakan tidak akan terjamin. Usia pakai diperkirakan hanya bertahan 3 tahun.

“Faktor kelembapan udara yang memperpendek usia pakai jika mempergunakan material besi biasa. Artinya dengan biaya Rp13 juta, dengan usia pakai 3 tahun, penyusutan perbulannya sebesar Rp361 ribu.”

“Kita akhirnya sepakat untuk merubah material dari besi biasa menjadi besi galvanis dengan bahan dinding ACT. Biayanya Rp25 juta, namun usia pakai diatas 10 tahun”

“Pertimbagan bukan mengefisiensikan dana tapi bagaimana agar mustahiq tidak risau dengan tempat usahanya dan bisa mendapatkan tambahan penghasilan” Akhirinya. /dro

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: