mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
28 Oktober 2021

Bos BMKG Bicara Skenario Gempa M 8,7 & Tsunami 30 Meter Jatim

Jakarta – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menghadiri webinar kajian dan mitigasi gempabumi dan tsunami di Jawa Timur pada, Jumat (28/5/2021). Dalam kesempatan itu, Dwikorita bicara soal skenario terburuk gempabumi M 8,7 hingga genangan akibat tsunami setinggi 30 meter di sejumlah wilayah di provinsi tersebut.

Mengawali paparannya, Dwikorita mengungkapkan ada tren peningkatan gempabumi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Bahkan, dia juga memaparkan skenario terburuk gempabumi di provinsi itu bisa mencapai M 8,7 sehingga bisa memicu tsunami.

“Jadi memang sejak awal tahun kami melakukan, sebelum ada kejadian gempa di Jawa Timur yang sudah dua kali ini, tepatnya akhir tahun kami melakukan evaluasi di wilayah Indonesia ini mengalami peningkatan kejadian gempa bumi di beberapa daerah,” ujar Dwikorita.

Baca juga: MUI serahkan Rp 22,3 milar donasi rakyat Indonesia untuk Palestina

“Jadi kami melakukan evaluasi di beberapa klaster di wilayah Indonesia ini mengalami peningkatan kegempaan, terutama klaster antara lain yang ada di Jawa Timur atau tepatnya lepas pantai selatan Jawa Timur dan juga klaster di selatan Selat Sunda, selatan Jawa Barat, kemudian juga selatan Jawa Tengah serta sebelah barat kepulauan Mentawai yang dapat berdampak ke Sumatra Barat, terutama klaster-klaster tersebut,” ujarnya.

Dwikoritas menuturkan secara umum terjadi lompatan kejadian gempa di tanah air dengan berbagai magnitudo. Sejak tahun 2008, rata-rata kejadian 4.000-5.000. Namun, sejak 2017, jumlah kejadian menjadi lebih dari 7.000 kali.

“Bahkan 2018 meningkat 11.900 kali dan masih bertahan di atas 11.000 di tahun 2019. Tahun 2020 masih di atas rata-rata 8.258. Namun kalau kita lihat klastering-nya, termasuk wilayah lepas pantai Jawa Timur,” kata Dwikorita.

Ia bilang kalau kekuatan gempa lebih banyak berada dibawah M 5.0. Artinya, kekuatan gempa di atas M 6.0 tidak sebanyak itu.

Foto: Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Rengga Sancaya/detikcom)

Namun, Dwikorita mengungkapkan hal itu menjadi perhatian. Sebab, gempabumi besar dan merusak seperti di Aceh (2004) hingga Yogyakarta (2006) berawal dari rentetan gempabumi kecil.

“Itu semua tidak mendadak terjadi gempa seketika. Semua selalu diawali dengan gempa-gempa kecil. Kadang yang bisa merasakan hanya alat kurang dari M 5.0, bahkan kurang dari M 4.0. Tapi jumlahnya, frekuensinya, dalam satu bulan bisa lebih dari 100 kali,” ujar Dwikorita.

“Fenomena itu yang saat ini sedang kami amati, kami analisis, dan ternyata di wilayah Jawa Timur itu pun juga mengalami peningkatan gempa-gempa kecil sebelum terjadinya gempa yang berkekuatan M 6.0 kemarin. Jadi kami sudah curiga sejak akhir tahun,” lanjutnya.

Khusus di Jawa Timur, Dwikorita menyebut selama ini rata-rata kejadian gempabumi mencapai 300-400 kali sebulan. Namun, sejak Januari 2021, jumlahnya sudah meningkat menjadi rata-rata 600 kali sebulan.

“Nah sehingga kami menyusuri pantai mulai Jatim sampai Selat Sunda mencek yang kami khawatirkan dari catatan sejarah gempa-gempa yang kekuatannya di atas M 7,0 diprediksi skenario terburuk kekuatannya M 8,7. Kekuatan M 8,7 ini bisa membangkit tsunami,” kata Dwikorita.

“Sehingga yang kami cek adalah kesiapan aparat setempat dan juga pemerintah daerah setempat serta kesiapan sarana prasarana untuk evakuasi apabila terjadi tsunami. Itulah yang perlu kami sampaikan dari apa kajian dan survei yang kami lakukan,” lanjutnya.

Baca Halaman selanjutnya; Gempa bumi besar dan ketinggian genangan akibat banjir

1 thought on “Bos BMKG Bicara Skenario Gempa M 8,7 & Tsunami 30 Meter Jatim

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: