mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Pekanbaru, detikriau.id – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Riau melalui juru bicara (Jubir) dr. Indra Yovi meminta pemerintah daerah (Pemda) kabupaten/kota di wilayah setempat untuk meningkatkan upaya penegakan disiplin terhadap penerapan protokol kesehatan (Prokes) di kalangan masyarakat, termasuk menerapkan sanksi dan hukuman bagi para pelanggar.

Hal ini, menyusul tingginya kasus konfirmasi Covid-19 di Provinsi Riau dalam kurun waktu terakhir. Yovi memprediksi, pada Mei 2021, capaian positif Covid-19 di “Bumi Lancang Kuning” akan menembus angka 15 ribu kasus.

“Bulan ini akan mencapai 15 ribu kasus. Angka psikologis kita itu mencapai seribu kasus per hari. Artinya kalau kasus kita mencapai seribu per hari, itu akan terjadi kesulitan tenaga kesehatan dan rumah sakit dalam menangani pasien Covid-19,” ungkap Yovi, Kamis (27/5/2021) di Pekanbaru.

Karena itu, Yovi mengatakan perlu dilakukan gebrakan baru yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten dan kota.

“Perda sudah selesai, tentu kita mengharapkan penegakan disiplin ini harus disertai sanksi dan hukuman. Karena kita sudah liat sendiri bagaimana kondisi di Provinsi Riau pada bulan Mei. Kalau kita tidak lakukan sesuatu yang luar biasa, bulan Juni dan Juli, kita akan mencapai puncaknya,” demikian Yovi.

Penambahan kasus konfirmasi 26 Mei jumlah kasus harian tertinggi di Riau

Jumlah kasus yang terjadi pada 26 Mei 2021 kemarin merupakan kasus harian tertinggi sepanjang wabah ini melanda Riau, yakni mencapai 739 kasus baru disertai dengan angka kematian 27 kasus.

Dengan penambahan 739 kasus tersebut Provinsi Riau berada di peringkat satu nasional penyumbang kasus harian terbanyak.

“Artinya kejadian kemarin adalah kejadian kasus harian tertinggi di Riau selama hampir 1,5 tahun pandemi melanda,” terang Yovi

“Kalau kita melihat jumlah angka kematian rata-rata mencapai kurang lebih 10-15 kasus perhari, dan di dalam bulan ini saja pasien yang maninggal akibat Covid lebih dari 300 orang,” tambahnya.

Lebih jauh, ia memperkirakan bahwa kasus di bulan Mei 2021 kemungkinan besar akan bisa menembus angka 15 ribu kasus dalam sebulan penuh. Sementara angka psikologis Riau di angka 1.000 perhari.

Baca juga : Wakapolri Resmikan Gedung Pelayanan Publik Terpadu Polri Polda Riau

“Artinya kalau kasus kita mencapai 1.000 kasus perhari itu akan terjadi kesulitan tenaga kesehatan atau rumah sakit dalam menangani pasien Covid-19,” jelas Yovi.

Untuk hari ini saja lanjutnya, jumlah keterisian ruang isolasi di beberapa rumah sakit besar sudah mencapai 80 persen dengan angka keterisian ICU hampir 100 persen.

“Dalam beberapa hari terakhir rumah sakit besar di Pekanbaru menerima rujukan-rujukan pasien dari Kabupaten Siak, Pelalawan, Inhu, Kuansing, Kampar dan Bengkalis. Kita melihat jumlah kapasitas di kab tersebut juga hampir 100 persen ruang isolasi terisi sehingga mereka harus mengirim ke Pekanbaru,” pungkasnya.

Peningkatan kasus dipicu klaster keluarga

Alhi epidemiologi Riau, dr Wildan Asfan Hasibuan mengatakan, meningkatnya pasien positif COVID-19 di Riau belakangan ini disinyalir dampak lebaran Idul Fitri 1442 Hijriyah lalu. Dimana dampaknya baru terlihat dua pekan setelah perayaan Idul Fitri.

“Memang estimasi kami satu sampai dua pekan pasca lebaran kasus COVID-19 akan naik di Riau,” kata dr Wildan, Kamis (27/5/2021).

Lebih lanjut dikatakannya, pasca Idul Fitri juga diketahui bahwa klaster keluarga semakin banyak, hal tersebut menjadi paramater bahwa naiknya kasus diduga akibat saat lebaran banyak masyarakat tidak menjaga protokol kesehatan.

“Budaya silaturahmi disaat lebaran sulit untuk dihindari dan kemungkinan tidak menerapkan protokol kesehatan karena dianggap hanya keluarga. Hal ini yang membuat transmisi COVID-19 terjadi,” ujarnya.

Selain itu, demikian dr Wildan, masih banyaknya masyarakat yang memaksakan diri untuk mudik dan banyaknya yang lolos melakukan mudik saat pembatasan kegiatan mudik juga menjadi salah satu indikator.

Alhi epidemiologi Riau, dr Wildan Asfan Hasibuan

“Karena mobilitas orang sangat berperan dalam penularan COVID-19. Oleh sebab itu, pelacakan kontak erat harus lebih diperkuat yakni 15 orang per kasus konfirmasi positif,” katanya.

Selain itu, lanjut dr Wildan, vaksinasi juga harus lebih gencar dilakukan terutama kepada kelompok lansia, karena mereka rentan menjadi kondisi berat bila tertular COVID-19.

“Kemudian juga penegakan hukum yang konsisten dan bisa menimbulkan efek jera juga harus dilakukan,” pintanya. (mediacenter Riau/MS)

Gubri minta Seluruh Puskesmas Tetap Berikan Pelayanan

Gubernur Riau H Syamsuar meminta agar seluruh Puskesmas di kabupaten/kota untuk tetap dibuka melayani masyarakat di saat pandemi COVID-19 saat ini.

Hal ini ditegaskan Gubri, karena berdasarkan pengecekan di lapangan ada beberapa Puskesmas yang tutup dan tidak melayani masyarakat. Padahal, di saat pandemi COVID-19 ini, pelayanan fasilitas kesehatan (Faskes) tidak dibenarkan tutup.

“Seperti kemarin itu, ada Puskesmas yang kita temukan tutup. Harapan saya. di masa pandemi COVID-19 ini, semua fasilitas kesehatan termasuk Puskesmas kiranya dapat dibuka,”tegasnya.

Gubri menambahkan, terkait kurangnya tenaga kesahatan (Nakes) di Puskesmas itu, diharapkan untuk tetap memaksimalkan yang ada. Tentunya dengan membagi waktu kerja atau shift bergantian bagi Nakes, sehingga mereka tidak merasa kecapaian.

Pada kesempatan itu, Gubri juga mengemukakan jika pihaknya akan memfokuskan RS Petala Bumi salah satu rumah sakit yang khusus menangani pasien COVID-19. Pihaknya juga telah menambah fasilitas dan kapasitas tempat tidur bagi pasien Covid-19 di RS Petala Bumi.

Selain itu lanjut Gubri, RSUD Arifin Achmad juga ditanbah kapasitasnya, termasuk Rumah Sakit Universitas Riau (UNRI). Untuk RS UNRI telah siap menyediakan 100 tempat tidur, termasuk Ruang ICU.

“Semua ini adalah upaya kami untuk memberikan pelayanan bagi pasien COVID-19 yang memang semakin tinggi jumlahnya. Semua fasilitas akan kita tambah di rumah sakit tersebut,” tuturnya.

Sumber: Mcr   Editor: Dro

Tinggalkan Balasan