mgid.com, 610011, DIRECT, d4c29acad76ce94f
26 September 2021

Apa Saja Keistimewaan Lailatul Qadar?

detikriau.id – Lailatul Qadar adalah malam yang paling dinantikan oleh umat Islam saat bulan suci Ramadhan. Sebab, pada malam ini, ada banyak keistimewaan yang Allah berikan.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan mengatakan Lailatul Qadar merupakan rahasia Allah yang diberikan agar umat Islam memperoleh kemuliaan hidup di dunia akhirat. Tak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti kapan Lailatul Qadar terjadi.

“Kita hanya mengetahui ciri-ciri Lailatul Qadar di bulan Ramadahan seperti akan akan memasuki puasa  ke-20. Dalam Alquran dan hadits, dijelaskan ciri-cirinya,” kata Amirsyah kepada Republika.co.id, Ahad (2/5).

Pada malam ini, siapa pun yang melakukan shalat malam karena iman dan mengharapkan ridha Allah akan diampuni dosanya. Ini berdasarkan salah satu hadits, “Barangsiapa melakukan salat malam pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan) karena iman dan mengharap ridha Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu,” (Muttafaq ‘alaih).

“Semua Muslim wajib melakukan perbuatan yang halal baik dalam bentuk makanan maupun perilaku,” ujar dia. Selain itu, Lailatul Qadar juga merupakan malam keagungan dan kemuliaan. Malam ini lebih baik daripada seribu bulan dan malam yang diberkahi. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Qadr ayat 3:

يْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Oleh karena itu, tidak ada manusia yang mampu memastikan terjadi Lailatul Qadar. Sebab, jika manusia dapat memastikan, maka manusia akan beramal secara temporer bahkan bias sifatnya tidak ikhlas mengharapkan ridha Allah.

Dalam buku Ringkasan Fikih Puasa Lengkap (Ringkasan Syarah 7Manhajus Salikin wa Taudhih al Fiqhi fid-Din -Kitab ash-Shiyam-), Al-Hafiz Ibnu Hajar telah menukilkan adanya perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah terjadinya Lailatul Qadar, ada lebih dari 40 pendapat. Di antaranya ada dua pendapat mengenai Lailatul Qadar yang terkuat.

“Pertama, Lailatul Qadar berpindah-pindah setiap tahunnya, pada salah satu dari malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. Terkadang terjadi di malam ganjil dan terkadang terjadi di malam yang genap. Akan tetapi, harapan terjadinya di malam-malam ganjil lebih besar daripada di malam-malam genap,” ucap dia.

Pendapat tersebut merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin. Kedua, Lailatul Qadar berpindah-pindah di setiap tahunnya di antara malam-malam ganjil saja pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hajar dan asy-Syaukani.

“Rasulullah selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Baginda berkata, ‘Carilah oleh kalian Lailatul Qadr pada sepuluh hari terakhir Ramadhan’,” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat malam tersebut (Lailatul Qadar), lalu aku dijadikan lupa terhadapnya. Maka dari itu, carilah oleh kalian malam tersebut pada sepuluh hari terakhir Ramadhan di setiap malam yang ganjil. Sungguh aku telah melihat diriku tengah bersujud di atas genangan air dan tanah liat.”

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Kami diguyur hujan pada malam ke-21. Masjid pun bocor persis di tempat shalat Rasulullah. Lantas aku melihat kepada baginda yang telah selesai menegakkan shalat Subuh dan wajahnya berlumuran tanah liat serta air,” (Muttafaq ‘alaih).

“Berdasarkan hal itu, barang siapa menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan seluruhnya dengan shalat Tarawih kerana iman dan mengharapkan pahala, dipastikan ia akan mendapatkan Lailatul Qadar,” kata dia.

Di antara tanda-tanda terjadinya Lailatul Qadar adalah berdasarkan hadits berikut, Ubai bin Ka’ab pernah bersumpah bahawa hal itu (Lailatul Qadr) terjadi di malam ke-27. Ubai ditanya, “Berdasarkan apa engkau mengetahui hal itu?” Ubai menjawab, “Berdasarkan tanda yang telah diberitakan oleh Rasulullah kepada kami, bahawa matahari terbit ketika itu tanpa sinar yang menyilaukan,” (HR Muslim).

Rasulullah SAW bersabda, “Lailatul Qadar adalah malam yang nyaman, tidak panas dan tidak dingin. Matahari terbit di pagi harinya dalam keadaan lemah sinarnya dan berwarna merah.” (HR Abu Dawud, ath-Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan lainnya. Disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ashShaghi). n Meiliza Laveda

sumber: Republika.co.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: